Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil OMJAY. Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, Menulis lah di blog Kompasiana Sebelum Tidur. HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Mengapa Rakyat Aceh Marah?

16 Agustus 2026   19:56 Diperbarui: 16 Agustus 2026   20:22 350 4 0

Untuk memahami mengapa gagasan tersebut pernah tumbuh kuat, kita harus kembali melihat sejarah.

Aceh memiliki sejarah panjang sebagai wilayah yang memiliki identitas politik, budaya, agama, dan sosial yang kuat. Perlawanan terhadap Belanda juga membentuk ingatan kolektif yang sangat kuat di masyarakat Aceh. Setelah Indonesia merdeka, hubungan Aceh dengan pemerintah pusat tidak selalu berjalan mulus.


Kekecewaan terhadap pemerintah pusat, persoalan pembagian sumber daya, tuntutan atas kekhususan Aceh, persoalan politik, serta berbagai ketegangan lainnya kemudian menjadi bagian dari latar belakang munculnya Gerakan Aceh Merdeka pada 1976 yang dipimpin Hasan di Tiro. Konflik antara GAM dan pemerintah Indonesia berlangsung selama sekitar tiga dekade.

Di sinilah kita harus berhati-hati.

Keinginan sebagian kelompok untuk merdeka tidak muncul begitu saja karena mereka membenci Indonesia. Ada sejarah panjang di belakangnya. Ada rasa ketidakadilan. Ada identitas lokal yang kuat. Ada pengalaman kekerasan. Ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Ada masyarakat yang hidup bertahun-tahun dalam suasana konflik.

Ketika seseorang mengalami luka sejarah, luka tersebut tidak selalu hilang hanya karena perang telah berhenti.

Luka bisa sembuh, tetapi ingatan tetap ada.

Dan Aceh memiliki sejarah yang sangat panjang untuk diingat.

Untungnya, sejarah juga mencatat bahwa konflik tersebut akhirnya diselesaikan melalui jalan damai.

Pada 15 Agustus 2005, Pemerintah Republik Indonesia dan GAM menandatangani MoU Helsinki. Kesepakatan itu menegaskan komitmen untuk menyelesaikan konflik secara damai, menyeluruh, berkelanjutan, dan bermartabat dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9