Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil OMJAY. Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, Menulis lah di blog Kompasiana Sebelum Tidur. HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Bagi sebagian orang, Bendera Bulan Bintang mengingatkan pada sejarah perjuangan GAM dan masa konflik Aceh. Karena itu, ketika simbol tersebut muncul kembali dalam sebuah peringatan perdamaian, wajar jika banyak orang melihatnya sebagai sesuatu yang sensitif.
Namun kita juga tidak boleh buru-buru menyimpulkan bahwa pengibaran simbol tersebut otomatis berarti perang akan kembali.
Itulah pentingnya kepala dingin.
Peristiwa di Masjid Raya Baiturrahman menjadi sangat ironis karena terjadi ketika masyarakat sedang memperingati Hari Damai Aceh ke-21. Di satu sisi, masyarakat berkumpul untuk zikir dan doa bersama. Di sisi lain, situasi justru berubah menjadi kericuhan. Bendera Merah Putih diturunkan dan Bendera Bulan Bintang dinaikkan. Aparat dan massa berhadapan.
Ada satu pelajaran penting dari peristiwa ini.
Perdamaian tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang otomatis bertahan selamanya.
Perdamaian bukan beton.
Perdamaian adalah jembatan.
Kalau jembatan tidak dirawat, ia bisa retak. Kalau retaknya dibiarkan, suatu hari bisa roboh.
Karena itu, jangan sampai kita hanya sibuk bertanya, "Siapa yang salah?"
Pertanyaan yang lebih penting adalah, "Mengapa peristiwa seperti ini bisa terjadi?"