Isti  Yogiswandani
Isti Yogiswandani Lainnya

Freelancer, suka traveling, dan kuliner.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Jangan Mengajak Anak Siaran Langsung atau Real Time

30 November 2025   08:53 Diperbarui: 30 November 2025   09:34 192 5 4

Jangan Mengajak Anak Siaran Langsung atau Real Time(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Jangan Mengajak Anak Siaran Langsung atau Real Time(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Penculikan anak yang marak membuat para orang tua khawatir, termasuk saya meski anak-anak saya sudah dewasa.

Salah satu hal yang saya lakukan adalah membuat liputan tunda saat menuliskan artikel yang berhubungan dengan aktivitas anak, sehingga saat liputan ini tayang, kondisi di lapangan sudah berbeda dan tidak bisa menjadi referensi atau informasi yang bisa disalahgunakan oleh penculik anak.

Penculikan anak sudah dalam taraf cukup memprihatinkan. Bahkan pernah ada saudara bercerita, saat berpergian, di terminal bertemu orang yang secara terang-terangan membujuk anaknya untuk diajak mengemis.

Anak-anak tetap mempunyai hak untuk bermain dan bergembira, meski harus tetap diawasi dan dipantau agar terhindar dari penculikan anak.

Seperti acara permainan anak yang dilakukan oleh CVI Jatim ini mengajak anak-anak untuk bermain bersama dan diberi hadiah sebagai reward atas partisipasinya.

Jangan Mengajak Anak Siaran Langsung atau Real Time(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Jangan Mengajak Anak Siaran Langsung atau Real Time(Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Permainan kali ini, ada 6  anak yang dibagi dalam 2 kelompok.

Kemudian panitia memberikan tulisan nama binatang yang harus diperagakan, tapi tidak boleh diucapkan. Nanti peserta terakhir menebak binatang yang dimaksud.

Semua dapat hadiah (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)
Semua dapat hadiah (Dokumentasi pribadi: Isti Yogiswandani)

Dalam permainan kali ini, ternyata peserta berhasil memperagakan dengan baik, dan semua jadi pemenang karena bisa menebak dengan betul, binatang yang dimaksud 

Akhirnya semua mendapat hadiah.

Selain tidak memposting aktivitas bersama anak secara real time, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegah penculikan anak, yaitu:

1. Pengawasan dan Batasan Fisik
  Jangan pernah tinggalkan anak sendirian di tempat umum, seperti taman, mal, area parkir, atau bahkan di dalam mobil/kereta dorong, meskipun hanya sebentar.

Buat aturan yang jelas tentang ke mana anak boleh pergi, dengan siapa mereka boleh pergi, dan kapan harus pulang. Pastikan anak selalu minta izin sebelum meninggalkan rumah.

Ketahui rute perjalanan anak (misalnya ke sekolah) dan pastikan lingkungan tempat mereka bermain aman

Selalu periksa rekam jejak pengasuh atau orang yang bertugas menjemput anak. Diskusikan pengaturan penjemputan dengan pihak sekolah atau penitipan anak.

2. Keamanan Informasi dan Identitas

Hindari mem-posting informasi identitas, detail lokasi, atau foto anak secara berlebihan dan detail di media sosial yang bisa dimanfaatkan orang asing.

Buatlah kode rahasia yang hanya diketahui oleh anggota keluarga inti. Ajarkan anak untuk tidak pergi dengan siapa pun—termasuk yang mengaku kerabat—kecuali mereka bisa menyebutkan kode rahasia tersebut.

Pertimbangkan untuk membuat kartu identitas kecil yang dilaminasi berisi nama anak, alamat, dan nomor telepon orang tua/kontak darurat. Untuk anak yang sangat kecil, informasi ini bisa ditulis di bagian dalam pakaian.

Jangan pakaikan anak pakaian dengan nama mereka tercetak jelas, karena penculik dapat menggunakan nama tersebut untuk membangun kepercayaan.


3. Keamanan Digital 

Awasi Aktivitas Online: Pantau penggunaan gadget dan aktivitas internet anak. Pastikan mereka tidak memberikan informasi pribadi atau berinteraksi secara intens dengan orang asing secara daring.

Pendidikan Keamanan untuk Anak


1. Waspada terhadap Orang Asing (Stranger Danger)

Jelaskan kepada anak bahwa orang asing (orang yang tidak dikenal baik oleh keluarga) tidak selalu terlihat jahat, bahkan bisa berpenampilan rapi dan ramah. Tekankan bahwa tidak semua orang asing jahat, tetapi mereka harus tetap waspada.

Ajarkan anak untuk menolak menerima makanan, permen, hadiah, atau ajakan pergi dari orang yang tidak dikenal, meskipun dengan iming-iming yang menarik (seperti membantu mencari hewan peliharaan yang hilang). Ajari mereka untuk menolak dengan baik-baik dan tegas.

Ajarkan anak untuk selalu mengatakan "Saya harus tanya ibu/ayah dulu" jika ada orang yang ingin mengajak mereka ke suatu tempat atau menawarkan sesuatu, bahkan jika itu adalah orang yang mereka kenal (karena penculikan sering dilakukan oleh orang yang dikenal).

 Ingatkan anak untuk tidak pernah memberikan informasi pribadi seperti nama lengkap, alamat rumah, atau nama sekolah kepada orang asing.


2. Tindakan dalam Keadaan Bahaya

Prinsip 'No, Go, Yell, Tell' (Tolak, Lari, Berteriak, Beri Tahu):
   -Tolak (No): Tolak ajakan atau permintaan yang membuat mereka tidak nyaman.
   -Lari (Go): Segera lari menjauhi orang yang mencoba memaksa mereka.
   -Berteriak (Yell): Berteriak sekeras mungkin (misalnya "Ini bukan ayahku/ibuku!" atau "Tolong!") dan buat keributan.
   - Beri Tahu (Tell): Segera cari orang dewasa yang dapat dipercaya (polisi, satpam, penjaga toko, atau ibu yang bersama anak) dan ceritakan apa yang terjadi.

Bantu anak mengenali tempat-tempat aman di sekitar mereka jika tersesat atau merasa terancam (pos polisi, pos satpam, atau toko ramai).

Pastikan anak menghafal nama lengkap mereka, nama orang tua, alamat rumah, dan nomor telepon orang tua atau nomor darurat.
Melatih keterampilan ini melalui permainan peran (role playing) secara rutin akan sangat membantu anak agar siap menghadapi situasi berbahaya.
Yuk simak videonya.

Sumber: YouTube @Isti Yogiswandani channel 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3