Jandris_Sky
Jandris_Sky Mahasiswa

Kompasianer Terpopuler 2024 - 2025 Kompasiana Award Pelestari 2025

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Belajar Membuat Komposter dan Kompos di Pesantren Tahfiz Daarul Quran

8 Agustus 2026   22:56 Diperbarui: 9 Agustus 2026   07:53 285 2 0

1000008190-6a774eccc925c438406155b2.jpg
1000008190-6a774eccc925c438406155b2.jpg

Belajar membuat komposter dan kompos di Pesantren Tahfiz Daarul Qur'an. (Sumber foto: Jandris_Sky)

Jangan Buang Sampah Organik! Belajar Membuat Komposter dan Kompos di Pesantren Tahfiz Daarul Qur'an

Sampah organik sering kali dianggap sebagai sesuatu yang sudah tidak berguna. Sisa sayuran, kulit buah, daun kering, hingga sisa makanan biasanya langsung masuk ke tempat sampah. Padahal, kalau sedikit saja mau belajar mengolahnya, sampah organik bisa berubah menjadi kompos yang bermanfaat untuk tanaman.


Hal inilah yang coba diperkenalkan melalui kegiatan Belajar Membuat Komposter dan Kompos dari Sampah Organik di Pesantren Tahfiz Daarul Qur'an. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Jeko Hijau (Jejak Kompasianer Hijau), Lestarisiana, dan Pesantren Tahfiz Daarul Qur'an.

1000008132-6a774d2aed6415382551caf5.jpg
1000008132-6a774d2aed6415382551caf5.jpg

Belajar membuat komposter dan kompos di Pesantren Tahfiz Daarul Qur'an. (Sumber foto: Jandris_Sky)

Kegiatan berlangsung dengan suasana santai dan penuh praktik. Para santri tingkat SMP dan SMA tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai sampah organik, tetapi juga diajak langsung membuat komposter dari barang-barang bekas yang ada di sekitar.

1000008103-6a774d61ed6415380759e412.jpg
1000008103-6a774d61ed6415380759e412.jpg

Belajar membuat kompos di Pesantren Tahfiz Daarul Qur'an. (Sumber foto: Jandris_Sky)

Belajar Sampah Tidak Harus Membosankan

Biasanya, ketika mendengar kata sampah, yang terbayang adalah sesuatu yang kotor dan harus segera dibuang. Namun dalam kegiatan ini, sudut pandang tersebut coba diubah.

1000008100-6a774d88c925c424745ddfdc.jpg
1000008100-6a774d88c925c424745ddfdc.jpg

Belajar membuat kompos di Pesantren Tahfiz Daarul Qur'an. (Sumber foto: Jandris_Sky)

Sampah organik justru diperkenalkan sebagai bahan yang masih memiliki manfaat. Dengan pengolahan yang tepat, sisa makanan dan bahan organik lainnya dapat dikembalikan menjadi sesuatu yang berguna bagi tanah dan tanaman.

Para santri diajak memahami bahwa pengelolaan sampah sebenarnya bisa dimulai dari hal sederhana. Tidak harus menunggu memiliki peralatan mahal atau fasilitas pengolahan sampah yang lengkap.

1000008104-6a774d9e34777c13a7482256.jpg
1000008104-6a774d9e34777c13a7482256.jpg

Belajar membuat kompos di Pesantren Tahfiz Daarul Qur'an. (Sumber foto: Jandris_Sky)

Yang menarik, komposter dalam kegiatan ini dibuat menggunakan barang-barang bekas, seperti dirigen, ember bekas cat, dan toples bekas berukuran sekitar 5 liter.

Barang yang sebelumnya mungkin hanya memenuhi sudut rumah atau bahkan berakhir di tempat sampah ternyata bisa diberi kehidupan baru sebagai wadah pengomposan.

1000008136-6a774db8ed64152919493c0c.jpg
1000008136-6a774db8ed64152919493c0c.jpg

Belajar membuat kompos di Pesantren Tahfiz Daarul Qur'an. (Sumber foto: Jandris_Sky)

Inilah salah satu pesan penting dari kegiatan tersebut: sebelum membeli sesuatu yang baru, coba lihat dulu barang bekas di sekitar kita. Bisa jadi masih dapat dimanfaatkan.

Praktik Membuat Komposter Bersama Jandris_Sky

Dalam praktik membuat komposter, para santri mendapatkan pendampingan dari Jandris_Sky, penerima Pelestari Kompasiana Awards 2025.

1000008141-6a774efbc925c4372e62c0c2.jpg
1000008141-6a774efbc925c4372e62c0c2.jpg

Belajar membuat komposter di Pesantren Tahfiz Daarul Qur'an. (Sumber foto: Jandris_Sky)

Santri diajak mengenal bagian-bagian sederhana dari komposter sekaligus memahami fungsi wadah dalam proses penguraian sampah organik. Dengan menggunakan dirigen, ember bekas cat, dan toples bekas 5 liter, proses pembuatan komposter terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tidak ada kesan bahwa membuat komposter merupakan pekerjaan yang rumit. Justru dari barang bekas sederhana, para santri dapat melihat bahwa kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan bisa berjalan bersama.

Suasana praktik pun menjadi lebih menarik karena para santri terlibat secara langsung. Mereka tidak hanya melihat contoh, tetapi ikut mencoba dan memahami bagaimana sebuah wadah bekas dapat dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik.

Belajar Mengompos Bersama Tutut Setyorinie

Setelah mengenal komposter, kegiatan dilanjutkan dengan praktik mengompos bersama Tutut Setyorinie, penerima Pelestari Kompasiana Awards 2024.

1000008193-6a774f29ed64152b8b678370.jpg
1000008193-6a774f29ed64152b8b678370.jpg

Belajar membuat kompos di Pesantren Tahfiz Daarul Qur'an. (Sumber foto: Jandris_Sky)

Pada tahap ini, para santri belajar bahwa membuat kompos bukan sekadar memasukkan sampah organik ke dalam wadah. Ada proses yang perlu diperhatikan agar pengomposan dapat berjalan dengan baik.

Sampah organik perlu dipilah dari sampah yang tidak dapat terurai. Bahan organik kemudian dapat dimasukkan ke dalam komposter dan dikelola secara bertahap.

Melalui praktik langsung, para santri bisa melihat bahwa proses mengompos membutuhkan kesabaran. Sampah tidak langsung berubah menjadi kompos dalam hitungan jam. Ada proses alami yang membutuhkan waktu hingga bahan organik terurai.

Di sinilah nilai penting lainnya muncul: mengompos juga mengajarkan kesabaran dan konsistensi.

Dari Pesantren untuk Lingkungan

Kegiatan yang diikuti santri tingkat SMP dan SMA di Pesantren Tahfiz Daarul Qur'an ini bukan hanya tentang membuat komposter.

Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi ruang belajar bahwa menjaga lingkungan dapat dilakukan dari tempat kita berada, termasuk dari lingkungan pesantren.

1000008096-6a775009c925c43a2231b4c2.jpg
1000008096-6a775009c925c43a2231b4c2.jpg

Belajar membuat kompos di Pesantren Tahfiz Daarul Qur'an. (Sumber foto: Jandris_Sky)

Bayangkan jika kebiasaan memilah dan mengolah sampah organik ini terus dilakukan. Sisa makanan dan sampah organik yang sebelumnya langsung dibuang dapat memiliki jalur pengolahan yang lebih bermanfaat.

Kompos yang dihasilkan nantinya juga dapat dimanfaatkan untuk tanaman. Dengan begitu, terjadi sebuah siklus sederhana: sisa organik diolah, menjadi kompos, kemudian kembali memberikan manfaat bagi tanaman dan tanah.

Mulai dari Barang Bekas, Mulai dari Sekarang

Kolaborasi Jeko Hijau (Jejak Kompasianer Hijau), Lestarisiana, dan Pesantren Tahfiz Daarul Qur'an menunjukkan bahwa edukasi lingkungan tidak harus selalu dilakukan melalui teori.

Kadang, pelajaran paling mudah diingat justru datang dari praktik sederhana. Memegang ember bekas, membuat komposter, memilah sampah organik, lalu mencoba proses pengomposan secara langsung bisa menjadi pengalaman yang jauh lebih bermakna.

Pada akhirnya, jangan buang sampah organik begitu saja. Coba lihat kembali potensinya. Dengan sedikit pengetahuan, kreativitas, dan kemauan untuk mencoba, sampah organik dapat diolah menjadi kompos.

Dari pesantren, dari para santri, dan dari barang-barang bekas yang sederhana, sebuah pesan lingkungan pun dimulai: sampah bukan selalu akhir dari sebuah perjalanan. Jika dikelola dengan benar, sampah organik justru bisa menjadi awal dari kehidupan baru bagi tanah dan tanaman.

Sumber Video: Akun YouTube Jandris_Sky

https://youtube.com/@jejakhijau73?si=YjfAZdRLcoNfzpPy

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5