Kawah Putih Ciwidey
"Ada perjalanan yang tujuannya bukan sekadar sampai di lokasi, tetapi menikmati setiap kilometer yang dilewati bersama orang-orang tercinta."
Bogor malam itu terasa begitu sejuk.
Setelah menunaikan salat Isya, saya, istri, dan ketiga anak kami keluar sebentar. Tujuannya sederhana, mengisi bensin mobil, membeli beberapa perbekalan untuk perjalanan esok hari, sekaligus menikmati makan malam bersama di kawasan Kompleks Bogor Nirwana Residence yang tidak jauh dari tempat tinggal kami.
Besok kami sudah punya rencana.
Sebelum azan Subuh berkumandang, kami akan berangkat menuju salah satu destinasi wisata alam yang sudah lama ingin kami kunjungi, karena tempat ini terakhir kami kunjungi tahun 2012, Kawah Putih Ciwidey, Kabupaten Bandung.
Kami memang sengaja berangkat sangat pagi.

Bukan karena ingin mengejar waktu, tetapi agar perjalanan terasa lebih santai. Sholat Subuh pun kami rencanakan dilakukan di salah satu rest area yang kami lewati. Bagi kami, perjalanan jauh bukan perlombaan siapa yang paling cepat sampai, melainkan kesempatan menikmati setiap momen di jalan.
Sebelum berangkat, saya sudah mengenakan baju koko dari rumah. Kebiasaan sederhana ini membuat saya tidak perlu lagi berganti pakaian ketika waktu sholat tiba.
Praktis, nyaman, dan perjalanan pun tetap terasa ringan.
Sepanjang perjalanan, suasana mobil tidak pernah sepi.
Istri dan anak-anak sengaja terus bercanda, saling menggoda, dan sesekali mengingatkan saya dengan berbagai cerita lucu. Saya tahu maksud mereka. Mereka ingin memastikan saya sebagai pengemudi tetap segar dan tidak mengantuk.
Perjalanan keluarga memang selalu seperti itu.

Bukan hanya berpindah tempat, tetapi juga menciptakan kenangan yang kelak akan selalu dikenang.
Kami tidak merasa sedang dikejar waktu.
Kalau mulai lelah atau mata terasa berat, kami berhenti di rest area. Kadang hanya untuk menikmati secangkir kopi hangat, meregangkan kaki, atau sekadar duduk beberapa menit sambil menghirup udara segar.
Empat kali kami berhenti selama perjalanan.
Beberapa di rest area, sebagian lagi di rumah makan Sunda yang menggugah selera. Perjalanan panjang justru menjadi lebih menyenangkan karena tidak dipaksakan.
Akhirnya sekitar pukul 13.15 WIB, kami tiba di pintu masuk Kawah Putih Ciwidey.
Keramaian langsung terlihat sejak area parkir.
Mobil dan sepeda motor memenuhi hampir seluruh lahan parkir. Ribuan pengunjung tampak hilir mudik menikmati salah satu objek wisata paling terkenal di Jawa Barat ini.
Begitu memasuki kawasan kawah, aroma belerang langsung menyambut kami.
Awalnya masih samar.
Namun semakin mendekati kawah, baunya semakin kuat.
Istri dan anak-anak segera menutup hidung dan mengenakan masker. Saya sendiri masih bisa menikmatinya, meskipun sesekali aroma belerang yang tajam cukup menusuk hidung.
Pemandangan di depan kami benar-benar luar biasa.
Danau kawah berwarna putih kehijauan berpadu dengan kabut tipis yang sesekali turun, menciptakan suasana seperti berada di negeri lain. Pohon-pohon kering yang berdiri di sekitar kawah justru menambah kesan eksotis sekaligus dramatis.
Tidak heran jika Kawah Putih menjadi salah satu lokasi favorit wisatawan maupun fotografer.
Kami pun mengabadikan momen dengan berbagai gaya.
Sesekali bergantian menjadi fotografer keluarga, sesekali tertawa melihat hasil foto yang lucu.
Namun ketika sampai di jembatan yang menjorok ke arah kawah, istri dan anak-anak memilih tidak melanjutkan.
Aroma belerang di area tersebut terasa jauh lebih pekat sehingga mereka merasa kurang nyaman.
Akhirnya kami menikmati keindahan kawah dari area yang lebih aman dan tetap bisa menyaksikan panorama alam yang luar biasa.
Kurang lebih 45 menit kami berada di kawasan Kawah Putih.
Bukan karena tidak indah, tetapi karena aroma belerang yang semakin kuat membuat kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah keluar dari kawasan wisata, tujuan kami berikutnya adalah mencari penginapan.
Hari itu pengunjung sangat ramai, terutama wisatawan dari Jakarta yang sedang menghabiskan waktu libur. Kami tidak ingin kehabisan kamar, sehingga memilih mencari penginapan lebih dulu sebelum mengunjungi destinasi berikutnya.
Syukurlah, kami berhasil mendapatkan sebuah guest house yang cukup nyaman untuk berlima.
Begitu barang-barang selesai diturunkan dan kami beristirahat sejenak, semangat kembali muncul.
Masih banyak tempat menarik di kawasan Ciwidey yang menunggu untuk dijelajahi.
Dan petualangan kami hari itu ternyata masih jauh dari kata selesai.
Begitulah perjalanan keluarga kami. Tidak selalu mengejar sebanyak mungkin destinasi dalam sehari, tetapi menikmati setiap tawa di dalam mobil, setiap cangkir kopi di rest area, setiap doa yang dipanjatkan di perjalanan, dan setiap momen kebersamaan yang mungkin suatu saat nanti hanya bisa dikenang lewat foto dan cerita. Karena pada akhirnya, bukan hanya tempat yang membuat perjalanan menjadi indah, melainkan orang-orang yang berjalan bersama kita.