Muhamad Arif
Muhamad Arif Mahasiswa

Undergraduate Film and Television Student in Universitas Pendidikan Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Video

Analisis Rekonstruksi Naratif Dunia Dystopia Film The Maze Runner Melalui Pendekatan Neoformalismus David Bordwell dan Teori Abjeksi Barbara Creed

2 Juni 2026   20:50 Diperbarui: 2 Juni 2026   22:28 140 1 0

I. PENDAHULUAN

Dalam dekade 2010-an, popularitas fiksi ilmiah subgenre dystopia dewasa muda juga dikenal sebagai dystopia dewasa muda menandai sebuah fenomena kultural yang signifikan dalam industri sinema di seluruh dunia. Narasi-narasi ini biasanya menampilkan perjuangan remaja melawan sistem masyarakat yang kejam, otoriter, dan mekanistis. The Maze Runner (2014), yang disutradarai oleh Wes Ball, adalah salah satu film baru yang paling menonjol karena menggambarkan ruang yang kaku dan mengerikan sebagai Labirin raksasa yang terus berubah. Film tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh buku pertama James Dashner, yang menjadi buku terlaris tahun 2009. Karena perbedaan yang signifikan antara dua medium, transfer sebuah dunia dystopia yang kompleks dari halaman buku ke dalam bingkai digital atau seluloid selalu melibatkan tantangan struktural yang signifikan. Dalam novel, Dashner menggunakan perspektif orang ketiga yang terbatas yang berkonsentrasi sepenuhnya pada kesadaran internal Thomas, tokoh utama. Di sisi lain, dalam medium film, monolog internal tokoh utama dihilangkan dan digantikan oleh elemen eksternal seperti komposisi visual, pergerakan kamera, penyuntingan ritmis, dan desain suara.

Sejauh ini, beberapa studi telah menyelidiki adaptasi The Maze Runner. Wardani (2019) melakukan penelitian sebelumnya yang berfokus pada analisis struktural komparatif elemen intrinsik yang membedakan novel dan film; penelitian tersebut sampai pada kesimpulan bahwa durasi menyebabkan penciutan alur. Penelitian Pratama (2022) melihat film ini dari sudut pandang sosiologi sastra Marxisme untuk menentukan bagaimana film tersebut menggambarkan perjuangan kelas pekerja muda melawan korporasi global yang mengeksploitasi mereka. Dari peta kesarjanaan tersebut, ada gap penelitian yang signifikan. Belum ada penelitian yang secara khusus mengeksplorasi hubungan langsung antara pengurangan naratif sinematik secara kognitif dan pembentukan efek teror sosiopsikologis di lingkungan dystopia. Studi sebelumnya sering membedakan studi formalisme struktur dari studi psikoanalisis monster. Padahal, dalam The Maze Runner, pembatasan informasi alur cerita adalah faktor utama yang membuat penonton ketakutan saat menghadapi elemen absurd Labirin.

Dua pertanyaan penelitian utama dibuat berdasarkan celah penelitian. Pertama, bagaimana pembatasan informasi digunakan untuk menciptakan ketegangan di dunia dystopia dalam film The Maze Runner? Kedua, dalam konteks sosiopsikologis dystopia, bagaimana elemen monster, tata ruang, dan otoritas dalam film tersebut mewakili konsep abjeksi dan monster-feminin? Sejalan dengan rumusan, tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi mekanisme kognitif penonton dalam menyusun kronologi cerita di tengah keterbatasan informasi visual. Selain itu, tujuan tersebut juga mencakup membedah makna sosiopsikologis dari peran ancaman totalitarian yang muncul dalam bentuk makhluk hibrida dan manipulasi otoritas ibu.

Manfaat teoretis dan praktis adalah dua bagian dari manfaat penelitian ini. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam bidang studi intertekstualitas dan sinema, terutama tentang bagaimana Teori Neoformalismus David Bordwell dapat digunakan untuk membedah genre fiksi ilmiah sinematik dengan menggabungkan Teori Psikoanalisis Kritis Barbara Creed dengan cara yang lintas disiplin. Secara praktis, penelitian ini dapat berfungsi sebagai referensi akademis bagi akademisi ilmu komunikasi, televisi, dan film dalam menganalisis teks audiovisual. Selain itu, itu juga dapat berfungsi sebagai panduan konseptual bagi praktisi industri kreatif atau sutradara dalam mengatasi strategi penyampaian informasi dalam adaptasi karya sastra ke dalam film.

II. METODE PENELITIAN

Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Dipilihnya desain ini karena fokus penelitian adalah memahami fenomena naratif sinematik tanpa menggunakan manipulasi statistik atau angka; interpretasi makna, pembedahan struktur teks, dan pemahaman mendalam tentang fenomena naratif. Untuk menyelidiki fungsi representasi gender, ruang, dan horor, pendekatan neoformalisme sinema David Bordwell untuk membedah anatomi bentuk narasi dikombinasikan dengan pendekatan psikoanalisis budaya Barbara Creed. Dengan menggabungkan kedua pendekatan ini, film dilihat sebagai sebuah sistem formal dan situs budaya yang mereplikasi kecemasan psikologis manusia terhadap struktur otoriter yang kejam.

Data kualitatif tekstual yang melakukan penafsiran mendalam dan laten digunakan dalam penelitian ini. Adegan, sekuens visual, unit naratif, unit adegan, komposisi mise-en-scène, teknik sinematografi (seperti pergerakan dan sudut kamera), ritme penyuntingan gambar, efek suara, dan transkrip dialog adalah semua elemen data yang menunjukkan strategi pembatasan informasi dan manifestasi teror sosiopsikologis. Subjek penelitian adalah film The Maze Runner (2014), yang disutradarai oleh Wes Ball dan diproduksi oleh 20th Century Fox. Film tersebut berdurasi 132 menit. Struktur rekonstruksi naratif dunia dystopia, serta representasi ruang dan karakter abjek yang dihasilkan dari adaptasi audiovisual dari teks novel, adalah subjek penelitiannya.

Metode pengumpulan data menggunakan observasi tekstual dan audiovisual yang sistematis. Dimulai dengan menonton film The Maze Runner berulang kali untuk menangkap ritme cerita dan koneksi sinematiknya. Selanjutnya, adegan penting diambil dengan teknik penangkapan layar (screencapping) dan pencatatan saksama terhadap transkrip verbal dan konfigurasi visual. Dua variabel utama, variabel restriksi informasi plot menurut Bordwell dan variabel estetika abjeksi, serta variabel representasi monster menurut Creed, kemudian digunakan untuk mengklasifikasikan data yang telah dikumpulkan.

Analisis data menggunakan model analisis teks sinematik. Model ini bergerak dari tahap deskripsi formal ke tahap interpretasi kritis. Alur cerita film dibagi menjadi sekuens yang lebih kecil berdasarkan perubahan ruang dan waktu. Ini adalah langkah pertama dalam proses analisis. Langkah selanjutnya adalah melakukan analisis komparatif-inferensial untuk mengetahui bagaimana syuzhet film memotong atau mengubah cerita dari novel Dashner untuk membantu penonton berpikir secara efektif. Setelah pola struktural cerita ditemukan, makna sosiopsikologis dari keberadaan monster Griever, Labirin, dan Dr. Ava Paige diperiksa menggunakan pisau analisis teori abjeksi Barbara Creed. Untuk menjamin bahwa interpretasi ilmiah yang dihasilkan dapat dipercaya, sinergi teori ini dilakukan dengan menggunakan landasan metodologis yang valid dari buku teks teori sinema yang kredibel.

Menurut pendekatan neoformalisme yang didirikan oleh David Bordwell, film dianggap sebagai sistem formal yang mengarahkan fungsi kognitif penonton. Pendekatan ini menentang gagasan bahwa penonton film hanyalah subjek pasif yang hanya menerima gambar. Sebaliknya, penonton secara aktif mengonstruksi makna melalui cues yang diberikan oleh teks film. Menurut teori ini, struktur naratif dibagi menjadi dua komponen konseptual yang berbeda, fabula dan syuzhet.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5