Undergraduate Film and Television Student in Universitas Pendidikan Indonesia
2. Labirin, Griever, dan Dr. Ava Paige sebagai Manifestasi Abjeksi Dunia Dystopia
Teori Barbara Creed tentang abjeksi dan perempuan yang mengerikan memberi kita alat yang tajam untuk memeriksa mengapa elemen-elemen dalam The Maze Runner terasa begitu mengerikan secara eksistensial. Sebaliknya, David Bordwell menunjukkan bagaimana keterbatasan informasi menciptakan struktur ketegangan. Teror utama dalam film ini bukan hanya ketakutan akan kematian secara langsung; itu juga berasal dari ancaman terus-menerus untuk menghancurkan batas-batas kemanusiaan dan struktur sosial yang stabil. Melalui visualisasi Labirin dan para penjaganya, Creed menggunakan konsep abjeksi Julia Kristeva secara sistematis.
Labirin dalam The Maze Runner adalah ruang abjeksi yang selalu berubah. Setiap malam, struktur tembok beton raksasa tersebut bergeser, menutup, dan mengorganisir dirinya sendiri dengan suara gemuruh mekanis yang mengintimidasi. Perubahan arsitektural ini menunjukkan ketidakpastian dan ancaman terhadap struktur simbolik. Tembok The Glade dianggap sebagai batas aman yang memisahkan peradaban mini mereka (yang menggambarkan aturan, kehidupan, dan hukum) dari dunia luar yang liar, gelap, dan mengerikan. Batas tersebut menjadi absolut ketika malam tiba dan pintu Labirin ditutup. Namun, ketika aturan dilanggar, saat Thomas memutuskan untuk melewati batas pintu yang sedang menutup untuk menyelamatkan Alby dan Minho, kepanikan massal terjadi. Esensi dari abjeksi adalah tindakan yang melampaui batas ini yaitu tindakan yang menantang aturan ruang yang telah disakralkan demi menjaga kewarasan kolektif.
Kemunculan Griever, makhluk penjaga Labirin, meningkatkan kengerianruang abjek ini. Griever adalah representasi sempurna dari monster abjek yang menentang klasifikasi biologis konvensional, menurut analisis yang didasarkan pada teori Barbara Creed. Griever digambarkan sebagai makhluk hibrida yang menggabungkan komponen organik-biologis (lendir, tubuh mirip kelabang raksasa, suara hewan) dengan komponen mekanis-teknologis (kaki robotik besi, jarum suntik logam, dan bagian sibernetik). Gambaran ini merusak perbedaan jelas antara yang alami (The Natural) dan yang buatan (The Artificial). Karena ia menunjukkan bagaimana tubuh biologis dapat dirusak, diinvasi, dan disatukan dengan mesin dingin yang tidak berjiwa, Griever mengganggu kenyamanan mental penonton. Karakteristik monster yang menjijikkan, penuh dengan lendir, tetapi juga tajam dari logam ini memicu reaksi instingtual penolakan dalam diri manusia. Kristeva menggambarkan reaksi ini sebagai respons terhadap hal-hal yang mengingatkan kita pada pembusukan dan hilangnya integritas tubuh manusia.
Selain itu, racun yang disuntikkan oleh Griever ke tubuh korbannya menyebabkan pembusukan fisik dan mental secara bertahap, yang memaksa korbannya untuk mengingat kembali peristiwa masa lalu mereka. Fenomena ini mengubah fungsi medis biasa: racun dan rasa sakit yang menghancurkan tubuh justru menjadi alat untuk menghidupkan kembali peristiwa masa lalu. Seperti yang terjadi pada Ben, tubuh yang terinfeksi menjadi lokasi abjek yang harus diisolasi dan diusir dari The Glade. Hal ini menunjukkan bagaimana struktur sosial dystopia harus membuang bagian dari dirinya yang telah tercemar untuk mempertahankan ilusi stabilitas struktur simbolik mereka.
Anatomi horor sosiopsikologis dalam film ini mencapai puncaknya pada figur institusional di balik seluruh eksperimen ini, Dr. Ava Paige, yang memimpin organisasi WCKD. Melalui gagasan yang mengerikan dari Barbara Creed, Ava Paige dapat dianggap sebagai representasi dari figur ibu primordial yang destruktif (The Devouring Mother). Sepanjang film, nama dan bayangannya muncul sebagai hantu yang mengendalikan nasib anak-anak di The Glade. Thomas melihat rekaman video Dr. Ava Paige ketika ia akhirnya berhasil keluar dari Labirin dan menemukan ruang kontrol yang telah hancur. Paige tampil dalam video dengan pakaian putih yang sangat bersih, rambut yang dibersihkan, dan ekspresi wajah yang santai, yang memancarkan aura otoritas yang dingin namun penuh keibuan.
"WCKD is good" (WCKD itu baik), slogan utama organisasi yang dipimpinnya, adalah yang paling kontradiktif. Kalimat ini menunjukkan manipulasi bahasa yang mengerikan. Ava Paige menggambarkan dirinya dan organisasinya sebagai penyelamat umat manusia; dia adalah contoh keibuan yang harus membuat keputusan sulit untuk mencegah virus global menghancurkan manusia. Namun, fakta di balik cerita penyelamatan adalah tindakan kejam yang menempatkan sejumlah anak-anak dan remaja ke dalam labirin maut, mengawasi kepanikan mereka, dan memantau aktivitas otak mereka di bawah tekanan teror yang luar biasa.
Creed menjelaskan bahwa monster perempuan menjadi sangat menakutkan ketika ia memutarbalikkan fungsi maternal dasar manusia yang seharusnya merawat, melindungi, dan memberikan kehidupan menjadi fungsi yang mengeksploitasi, mengorbankan, dan mengonsumsi anak-anaknya sendiri demi sebuah eksperimen sains yang amoral. Kematian Ava Paige yang tampaknya palsu di akhir film pertama, diikuti oleh pernyataannya bahwa eksperimen baru saja memasuki fase berikutnya, menegaskan bahwa cengkeraman dari figur monstrous-feminine ini tidak mudah dipatahkan. Otoritas maternal yang korup ini tetap berdiri kokoh sebagai arsitek utama di balik penderitaan dan keputusasaan dunia dystopia tersebut.
3. Dinamika Adaptasi Media Sinergi Estetika Bentuk dan Isi
The Maze Runner berhasil sebagai adaptasi karena strategi narasi David Bordwell bekerja sama dengan estetika abjeksi Barbara Creed. Sutradara memadatkan detail dunia makro yang ada di novel menjadi fokus mikro yang intens di dalam film. Keputusan struktural ini memaksa penonton untuk mengalami kengerian sensorik langsung di depan mata mereka daripada memiliki kesempatan untuk berpikir secara teoretis tentang masalah politik di luar sana.
Dalam adegan klimaks, misalnya, ketika tembok Labirin tidak lagi tertutup di malam hari, membiarkan kawanan Griever menyerbu perkemahan The Glade, struktur syuzhet film berubah dari misteri fiksi ilmiah menjadi horor murni. Kekacauan visual yang menyerupai keruntuhan sistem hukum di The Glade disebabkan oleh pencahayaan yang sangat rendah (low-key lighting), cahaya obor yang tidak stabil, dan kamera genggam yang berguncang hebat (handheld camera). Di sini, kita melihat bagaimana formalisme film dimanipulasi untuk menegaskan pesan psikologis tentang kehancuran batas pertahanan manusia terhadap serbuan hal-hal yang tidak berguna.