Undergraduate Film and Television Student in Universitas Pendidikan Indonesia
I. PENDAHULUAN
Dalam dekade 2010-an, popularitas fiksi ilmiah subgenre dystopia dewasa muda juga dikenal sebagai dystopia dewasa muda menandai sebuah fenomena kultural yang signifikan dalam industri sinema di seluruh dunia. Narasi-narasi ini biasanya menampilkan perjuangan remaja melawan sistem masyarakat yang kejam, otoriter, dan mekanistis. The Maze Runner (2014), yang disutradarai oleh Wes Ball, adalah salah satu film baru yang paling menonjol karena menggambarkan ruang yang kaku dan mengerikan sebagai Labirin raksasa yang terus berubah. Film tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh buku pertama James Dashner, yang menjadi buku terlaris tahun 2009. Karena perbedaan yang signifikan antara dua medium, transfer sebuah dunia dystopia yang kompleks dari halaman buku ke dalam bingkai digital atau seluloid selalu melibatkan tantangan struktural yang signifikan. Dalam novel, Dashner menggunakan perspektif orang ketiga yang terbatas yang berkonsentrasi sepenuhnya pada kesadaran internal Thomas, tokoh utama. Di sisi lain, dalam medium film, monolog internal tokoh utama dihilangkan dan digantikan oleh elemen eksternal seperti komposisi visual, pergerakan kamera, penyuntingan ritmis, dan desain suara.
Sejauh ini, beberapa studi telah menyelidiki adaptasi The Maze Runner. Wardani (2019) melakukan penelitian sebelumnya yang berfokus pada analisis struktural komparatif elemen intrinsik yang membedakan novel dan film; penelitian tersebut sampai pada kesimpulan bahwa durasi menyebabkan penciutan alur. Penelitian Pratama (2022) melihat film ini dari sudut pandang sosiologi sastra Marxisme untuk menentukan bagaimana film tersebut menggambarkan perjuangan kelas pekerja muda melawan korporasi global yang mengeksploitasi mereka. Dari peta kesarjanaan tersebut, ada gap penelitian yang signifikan. Belum ada penelitian yang secara khusus mengeksplorasi hubungan langsung antara pengurangan naratif sinematik secara kognitif dan pembentukan efek teror sosiopsikologis di lingkungan dystopia. Studi sebelumnya sering membedakan studi formalisme struktur dari studi psikoanalisis monster. Padahal, dalam The Maze Runner, pembatasan informasi alur cerita adalah faktor utama yang membuat penonton ketakutan saat menghadapi elemen absurd Labirin.
Dua pertanyaan penelitian utama dibuat berdasarkan celah penelitian. Pertama, bagaimana pembatasan informasi digunakan untuk menciptakan ketegangan di dunia dystopia dalam film The Maze Runner? Kedua, dalam konteks sosiopsikologis dystopia, bagaimana elemen monster, tata ruang, dan otoritas dalam film tersebut mewakili konsep abjeksi dan monster-feminin? Sejalan dengan rumusan, tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi mekanisme kognitif penonton dalam menyusun kronologi cerita di tengah keterbatasan informasi visual. Selain itu, tujuan tersebut juga mencakup membedah makna sosiopsikologis dari peran ancaman totalitarian yang muncul dalam bentuk makhluk hibrida dan manipulasi otoritas ibu.
Manfaat teoretis dan praktis adalah dua bagian dari manfaat penelitian ini. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam bidang studi intertekstualitas dan sinema, terutama tentang bagaimana Teori Neoformalismus David Bordwell dapat digunakan untuk membedah genre fiksi ilmiah sinematik dengan menggabungkan Teori Psikoanalisis Kritis Barbara Creed dengan cara yang lintas disiplin. Secara praktis, penelitian ini dapat berfungsi sebagai referensi akademis bagi akademisi ilmu komunikasi, televisi, dan film dalam menganalisis teks audiovisual. Selain itu, itu juga dapat berfungsi sebagai panduan konseptual bagi praktisi industri kreatif atau sutradara dalam mengatasi strategi penyampaian informasi dalam adaptasi karya sastra ke dalam film.
II. METODE PENELITIAN
Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Dipilihnya desain ini karena fokus penelitian adalah memahami fenomena naratif sinematik tanpa menggunakan manipulasi statistik atau angka; interpretasi makna, pembedahan struktur teks, dan pemahaman mendalam tentang fenomena naratif. Untuk menyelidiki fungsi representasi gender, ruang, dan horor, pendekatan neoformalisme sinema David Bordwell untuk membedah anatomi bentuk narasi dikombinasikan dengan pendekatan psikoanalisis budaya Barbara Creed. Dengan menggabungkan kedua pendekatan ini, film dilihat sebagai sebuah sistem formal dan situs budaya yang mereplikasi kecemasan psikologis manusia terhadap struktur otoriter yang kejam.
Data kualitatif tekstual yang melakukan penafsiran mendalam dan laten digunakan dalam penelitian ini. Adegan, sekuens visual, unit naratif, unit adegan, komposisi mise-en-scène, teknik sinematografi (seperti pergerakan dan sudut kamera), ritme penyuntingan gambar, efek suara, dan transkrip dialog adalah semua elemen data yang menunjukkan strategi pembatasan informasi dan manifestasi teror sosiopsikologis. Subjek penelitian adalah film The Maze Runner (2014), yang disutradarai oleh Wes Ball dan diproduksi oleh 20th Century Fox. Film tersebut berdurasi 132 menit. Struktur rekonstruksi naratif dunia dystopia, serta representasi ruang dan karakter abjek yang dihasilkan dari adaptasi audiovisual dari teks novel, adalah subjek penelitiannya.
Metode pengumpulan data menggunakan observasi tekstual dan audiovisual yang sistematis. Dimulai dengan menonton film The Maze Runner berulang kali untuk menangkap ritme cerita dan koneksi sinematiknya. Selanjutnya, adegan penting diambil dengan teknik penangkapan layar (screencapping) dan pencatatan saksama terhadap transkrip verbal dan konfigurasi visual. Dua variabel utama, variabel restriksi informasi plot menurut Bordwell dan variabel estetika abjeksi, serta variabel representasi monster menurut Creed, kemudian digunakan untuk mengklasifikasikan data yang telah dikumpulkan.
Analisis data menggunakan model analisis teks sinematik. Model ini bergerak dari tahap deskripsi formal ke tahap interpretasi kritis. Alur cerita film dibagi menjadi sekuens yang lebih kecil berdasarkan perubahan ruang dan waktu. Ini adalah langkah pertama dalam proses analisis. Langkah selanjutnya adalah melakukan analisis komparatif-inferensial untuk mengetahui bagaimana syuzhet film memotong atau mengubah cerita dari novel Dashner untuk membantu penonton berpikir secara efektif. Setelah pola struktural cerita ditemukan, makna sosiopsikologis dari keberadaan monster Griever, Labirin, dan Dr. Ava Paige diperiksa menggunakan pisau analisis teori abjeksi Barbara Creed. Untuk menjamin bahwa interpretasi ilmiah yang dihasilkan dapat dipercaya, sinergi teori ini dilakukan dengan menggunakan landasan metodologis yang valid dari buku teks teori sinema yang kredibel.
Menurut pendekatan neoformalisme yang didirikan oleh David Bordwell, film dianggap sebagai sistem formal yang mengarahkan fungsi kognitif penonton. Pendekatan ini menentang gagasan bahwa penonton film hanyalah subjek pasif yang hanya menerima gambar. Sebaliknya, penonton secara aktif mengonstruksi makna melalui cues yang diberikan oleh teks film. Menurut teori ini, struktur naratif dibagi menjadi dua komponen konseptual yang berbeda, fabula dan syuzhet.
Fabula, atau cerita, adalah ide yang ditanamkan oleh penonton secara mandiri dalam pikiran mereka selama dan setelah menonton film. Fabula mencakup semua peristiwa yang terjadi dalam urutan kronologis, hubungan sebab-akibat (kausalitas), ruang, dan waktu. Ini termasuk peristiwa yang tidak ditampilkan secara langsung di layar tetapi dapat dipahami oleh penonton dengan logika. Sebaliknya, cerita, juga dikenal sebagai plot, adalah rangkaian arsitektur visual dan audio yang ditampilkan secara langsung kepada penonton sepanjang durasi film. Plot termasuk keputusan sutradara tentang adegan mana yang ditampilkan terlebih dahulu, informasi apa yang ditunda, dan bagaimana ritme penyuntingan mengendalikan perasaan penonton.
Narasi (Naration) adalah proses yang menghubungkan syuzhet dengan pembentukan cerita dalam pikiran penonton. Manipulasi pengetahuan, juga dikenal sebagai pengetahuan terbatas, adalah salah satu pendekatan narasi yang paling efektif untuk menciptakan ketegangan, menurut Bordwell. Ketika sebuah cerita membatasi informasi hanya pada apa yang diketahui, didengar, dan dilihat oleh satu karakter tertentu, penonton akan mengalami rasa ingin tahu yang sama besar dengan karakter tersebut dan menjadi tidak nyaman. Analisis Bordwell berfokus pada bagaimana syuzhet film mengompresi atau mereorganisasi cerita yang luas yang ada dalam novel agar penceritaan sinematik menjadi efektif.
Teori Barbara Creed membedah substansi psikologis dan representasi kultural ancaman dalam dystopia, sedangkan teori Bordwell digunakan untuk menguliti anatomi formal narasi. Dalam bukunya yang berjudul Powers of Horror, psikoanalis Julia Kristeva menciptakan konsep abjeksi, yang mendasari pemikiran Creed. Kristeva menganggap abjek sebagai sesuatu yang mengganggu identitas, sistem, atau struktur masyarakat. Abjek adalah hal-hal yang tidak menghormati batas, peraturan, atau lokasi yang telah ditetapkan dalam sistem simbolik manusia. Jika sesuatu mengingatkan kita pada kerapuhan eksistensi manusia, seperti mayat, darah, atau kotoran, atau hibriditas yang mengaburkan batas antara yang hidup dan yang mati, itu menjadi abjek.
Barbara Creed menciptakan istilah the monstrous-feminine dan memasukkan gagasan ini ke dalam bidang studi film, terutama film horor dan fiksi ilmiah. Creed menantang pendekatan psikoanalisis konvensional yang dianut oleh Laura Mulvey dan Freud, yang hanya menggambarkan perempuan dalam sinema sebagai korban pengebirian atau objek pasif dari tatapan laki-laki (male gaze). Sebaliknya, Creed menyatakan bahwa film sering mengonstruksi figur perempuan sebagai subjek monster yang aktif, mengerikan, dan mengancam tatanan patriarki. Monster perempuan ini biasanya dikaitkan dengan tugas ibu yang menghancurkan, tubuh yang menolak klasifikasi normal, dan peran sebagai "ibu primordial" yang melahirkan dan menelan kembali anak-anaknya.
Konsep abjeksi dan monstrous-feminine digunakan dalam cerita dystopia seperti The Maze Runner untuk menggambarkan ancaman yang dihadapi oleh karakter. Dalam banyak kasus, dunia dystopia dicirikan oleh upaya para penguasa untuk menerapkan keteraturan mekanis, mutlak, dan steril. Oleh karena itu, monster, kegelapan, dan kekacauan biologis yang ada di luar batas keteraturan tersebut merupakan gangguan yang harus disingkirkan atau dikendalikan. Dari perspektif Creed, karakter-karakter yang diwakili oleh wanita atau makhluk hibrida yang ada di Labirin dapat dianggap sebagai representasi dari rasa takut yang mendalam yang dipegang oleh struktur sosial terhadap kekuasaan ibu yang tidak etis dan teknologi yang melanggar batas alam manusia.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Transformasi Fabula ke Syuzhet: Strategi Pembatasan Informasi Sinematik
Saat melihat The Maze Runner dari perspektif David Bordwell, hal pertama yang harus diperhatikan adalah bagaimana plot sinematik (syuzhet) mengambil alih cetak biru cerita (fabula) yang luas dari James Dashner. Dashner membangun cerita yang rumit dalam bukunya tentang fenomena alam yang dikenal sebagai The Flare, atau sinar matahari, yang mengakibatkan kerusakan Bumi dan menyebabkan virus berbahaya yang menyerang sistem saraf pusat manusia. Selain itu, novel memungkinkan Thomas dan Teresa untuk menggunakan kemampuan telepati mereka; elemen ini meningkatkan pemahaman pembaca tentang hubungan mereka sebelumnya dengan organisasi WCKD (World In Catastrophe: Killzone Experiment Department).
Namun, aspek telepati ini dihilangkan sepenuhnya dalam cerita film yang diarahkan oleh Wes Ball. Penghapusan ini bukan sekadar efisiensi durasi, melainkan sebuah strategi narasi yang disengaja untuk memperkuat efek kognitif dari restricted narration (narasi terbatas). Dengan menghilangkan komunikasi telepatik, sutradara berhasil menyesuaikan pandangan penonton dengan ketidaktahuan Thomas. Sejak menit pertama film dimulai, adegan yang menunjukkan Thomas terbangun di dalam The Box, sebuah lift bergerak gelap. Tidak ada prolog, teks pembuka, atau narasi suara yang menjelaskan latar belakang dunia kepada penonton. Penonton disorientasi secara fisik dan spatial karena strategi syuzhet yang menahan informasi eksposisi ini. Penonton hanya mengetahui apa yang Thomas ketahui saat dia dilemparkan ke tengah komunitas The Glade, sebuah area terbuka yang dikelilingi oleh tembok Labirin raksasa. Dia juga merasakan kepanikan yang sama.
Bordwell mengatakan bahwa dalam tradisi naratif Hollywood, penonton biasanya dipandu melalui penjelasan yang jelas di awal cerita untuk membuat mereka nyaman. Namun, kenyamanan tersebut sengaja dihancurkan dalam The Maze Runner untuk merekonstruksi esensi dunia dystopia itu sendiri. Dunia dystopia adalah dunia yang tidak terlihat, penuh dengan rahasia, dan dikontrol oleh asimetri informasi. Struktur syuzhet film ini menggunakan kontrol informasi sebagai sumber ketegangan utama. Setiap kali Thomas mencoba menanyakan apa yang ada di balik tembok, karakter lain seperti Alby atau Gally menolak untuk memberikan informasi itu, menyatakan bahwa aturan utama di The Glade adalah bahwa tidak ada orang yang boleh masuk ke Labirin kecuali mereka yang telah dipilih sebagai Runners. Pembatasan informasi ini mendorong aktivitas kognitif penonton untuk membuat hipotesis sementara tentang fungsi ruang isolasi ini. Ini menciptakan hubungan psikologis yang kuat antara penonton dan perjuangan karakter.
Penataan waktu (temporal order) menunjukkan pergeseran fabula ke syuzhet ini. Dalam novel, serangkaian kilas balik yang cukup detail secara verbal digambarkan tentang bagaimana karakter memperbaiki ingatan mereka tentang peristiwa yang disebut The Changing (disengat oleh Griever). Namun, ingatan masa lalu Thomas digambarkan dalam film dengan fragmen-fragmen gambar yang buram, suara-suara yang terdistorsi, dan kilatan wajah Dr. Ava Paige. Metode penyuntingan kilas balik yang terfragmentasi ini menunjukkan bahwa ingatan dalam dunia dystopia telah dikomodifikasi dan dimanipulasi oleh kekuasaan yang berkuasa. Film berhasil mengubah pandangan penonton dari seseorang yang melihat dari sudut pandang luar menjadi orang yang benar-benar mengalami klaustrofobia psikologis dari sistem tirani melalui arsitektur syuzhet yang ketat ini.
2. Labirin, Griever, dan Dr. Ava Paige sebagai Manifestasi Abjeksi Dunia Dystopia
Teori Barbara Creed tentang abjeksi dan perempuan yang mengerikan memberi kita alat yang tajam untuk memeriksa mengapa elemen-elemen dalam The Maze Runner terasa begitu mengerikan secara eksistensial. Sebaliknya, David Bordwell menunjukkan bagaimana keterbatasan informasi menciptakan struktur ketegangan. Teror utama dalam film ini bukan hanya ketakutan akan kematian secara langsung; itu juga berasal dari ancaman terus-menerus untuk menghancurkan batas-batas kemanusiaan dan struktur sosial yang stabil. Melalui visualisasi Labirin dan para penjaganya, Creed menggunakan konsep abjeksi Julia Kristeva secara sistematis.
Labirin dalam The Maze Runner adalah ruang abjeksi yang selalu berubah. Setiap malam, struktur tembok beton raksasa tersebut bergeser, menutup, dan mengorganisir dirinya sendiri dengan suara gemuruh mekanis yang mengintimidasi. Perubahan arsitektural ini menunjukkan ketidakpastian dan ancaman terhadap struktur simbolik. Tembok The Glade dianggap sebagai batas aman yang memisahkan peradaban mini mereka (yang menggambarkan aturan, kehidupan, dan hukum) dari dunia luar yang liar, gelap, dan mengerikan. Batas tersebut menjadi absolut ketika malam tiba dan pintu Labirin ditutup. Namun, ketika aturan dilanggar, saat Thomas memutuskan untuk melewati batas pintu yang sedang menutup untuk menyelamatkan Alby dan Minho, kepanikan massal terjadi. Esensi dari abjeksi adalah tindakan yang melampaui batas ini yaitu tindakan yang menantang aturan ruang yang telah disakralkan demi menjaga kewarasan kolektif.
Kemunculan Griever, makhluk penjaga Labirin, meningkatkan kengerianruang abjek ini. Griever adalah representasi sempurna dari monster abjek yang menentang klasifikasi biologis konvensional, menurut analisis yang didasarkan pada teori Barbara Creed. Griever digambarkan sebagai makhluk hibrida yang menggabungkan komponen organik-biologis (lendir, tubuh mirip kelabang raksasa, suara hewan) dengan komponen mekanis-teknologis (kaki robotik besi, jarum suntik logam, dan bagian sibernetik). Gambaran ini merusak perbedaan jelas antara yang alami (The Natural) dan yang buatan (The Artificial). Karena ia menunjukkan bagaimana tubuh biologis dapat dirusak, diinvasi, dan disatukan dengan mesin dingin yang tidak berjiwa, Griever mengganggu kenyamanan mental penonton. Karakteristik monster yang menjijikkan, penuh dengan lendir, tetapi juga tajam dari logam ini memicu reaksi instingtual penolakan dalam diri manusia. Kristeva menggambarkan reaksi ini sebagai respons terhadap hal-hal yang mengingatkan kita pada pembusukan dan hilangnya integritas tubuh manusia.
Selain itu, racun yang disuntikkan oleh Griever ke tubuh korbannya menyebabkan pembusukan fisik dan mental secara bertahap, yang memaksa korbannya untuk mengingat kembali peristiwa masa lalu mereka. Fenomena ini mengubah fungsi medis biasa: racun dan rasa sakit yang menghancurkan tubuh justru menjadi alat untuk menghidupkan kembali peristiwa masa lalu. Seperti yang terjadi pada Ben, tubuh yang terinfeksi menjadi lokasi abjek yang harus diisolasi dan diusir dari The Glade. Hal ini menunjukkan bagaimana struktur sosial dystopia harus membuang bagian dari dirinya yang telah tercemar untuk mempertahankan ilusi stabilitas struktur simbolik mereka.
Anatomi horor sosiopsikologis dalam film ini mencapai puncaknya pada figur institusional di balik seluruh eksperimen ini, Dr. Ava Paige, yang memimpin organisasi WCKD. Melalui gagasan yang mengerikan dari Barbara Creed, Ava Paige dapat dianggap sebagai representasi dari figur ibu primordial yang destruktif (The Devouring Mother). Sepanjang film, nama dan bayangannya muncul sebagai hantu yang mengendalikan nasib anak-anak di The Glade. Thomas melihat rekaman video Dr. Ava Paige ketika ia akhirnya berhasil keluar dari Labirin dan menemukan ruang kontrol yang telah hancur. Paige tampil dalam video dengan pakaian putih yang sangat bersih, rambut yang dibersihkan, dan ekspresi wajah yang santai, yang memancarkan aura otoritas yang dingin namun penuh keibuan.
"WCKD is good" (WCKD itu baik), slogan utama organisasi yang dipimpinnya, adalah yang paling kontradiktif. Kalimat ini menunjukkan manipulasi bahasa yang mengerikan. Ava Paige menggambarkan dirinya dan organisasinya sebagai penyelamat umat manusia; dia adalah contoh keibuan yang harus membuat keputusan sulit untuk mencegah virus global menghancurkan manusia. Namun, fakta di balik cerita penyelamatan adalah tindakan kejam yang menempatkan sejumlah anak-anak dan remaja ke dalam labirin maut, mengawasi kepanikan mereka, dan memantau aktivitas otak mereka di bawah tekanan teror yang luar biasa.
Creed menjelaskan bahwa monster perempuan menjadi sangat menakutkan ketika ia memutarbalikkan fungsi maternal dasar manusia yang seharusnya merawat, melindungi, dan memberikan kehidupan menjadi fungsi yang mengeksploitasi, mengorbankan, dan mengonsumsi anak-anaknya sendiri demi sebuah eksperimen sains yang amoral. Kematian Ava Paige yang tampaknya palsu di akhir film pertama, diikuti oleh pernyataannya bahwa eksperimen baru saja memasuki fase berikutnya, menegaskan bahwa cengkeraman dari figur monstrous-feminine ini tidak mudah dipatahkan. Otoritas maternal yang korup ini tetap berdiri kokoh sebagai arsitek utama di balik penderitaan dan keputusasaan dunia dystopia tersebut.
3. Dinamika Adaptasi Media Sinergi Estetika Bentuk dan Isi
The Maze Runner berhasil sebagai adaptasi karena strategi narasi David Bordwell bekerja sama dengan estetika abjeksi Barbara Creed. Sutradara memadatkan detail dunia makro yang ada di novel menjadi fokus mikro yang intens di dalam film. Keputusan struktural ini memaksa penonton untuk mengalami kengerian sensorik langsung di depan mata mereka daripada memiliki kesempatan untuk berpikir secara teoretis tentang masalah politik di luar sana.
Dalam adegan klimaks, misalnya, ketika tembok Labirin tidak lagi tertutup di malam hari, membiarkan kawanan Griever menyerbu perkemahan The Glade, struktur syuzhet film berubah dari misteri fiksi ilmiah menjadi horor murni. Kekacauan visual yang menyerupai keruntuhan sistem hukum di The Glade disebabkan oleh pencahayaan yang sangat rendah (low-key lighting), cahaya obor yang tidak stabil, dan kamera genggam yang berguncang hebat (handheld camera). Di sini, kita melihat bagaimana formalisme film dimanipulasi untuk menegaskan pesan psikologis tentang kehancuran batas pertahanan manusia terhadap serbuan hal-hal yang tidak berguna.
Makna dystopia dalam The Maze Runner berkembang dibandingkan dengan versi novelnya melalui adaptasi visual ini. Novelnya menampilkan detail psikologis internal dan penjelasan logis tentang latar belakang eksperimen, sedangkan filmnya menampilkan dialektika antara ruang dan tubuh. Di hadapan penonton, tubuh-tubuh muda yang penuh energi dipaksa berbenturan dengan dinding beton yang dingin dan keras yang tidak peduli. Labirin berfungsi sebagai sarana sinematik untuk mengurung, mengklasifikasikan, dan mendisiplinkan tubuh-tubuh tersebut; konsep ini mirip dengan konsep institusi disipliner kontemporer. Berhasil, fiksi ilmiah menjadi sebuah pengalaman film yang menggugah kesadaran penonton akan bahaya fasisme dan sains yang kehilangan kemanusiaannya berkat kombinasi alur cerita yang cepat dan visualisasi monster biomekanis yang mengerikan.
IV. Kesimpulan
Analisis mendalam menghasilkan kesimpulan bahwa film The Maze Runner (2014) adalah adaptasi yang berhasil yang memanfaatkan fitur unik medium sinematik untuk merekonstruksi cerita. Film ini terbukti mampu mengonversi materi cerita (fabula) yang rumit dari novel James Dashner menjadi susunan plot (syuzhet) yang padat, ekonomis, dan fokus, menggunakan perspektif Teori Naratif Neoformalisme David Bordwell. Penggunaan narasi terbatas (restricted knowledge) dengan menghilangkan kemampuan telepati karakter dan menyembunyikan informasi tentang dunia luar, berhasil membawa penonton ke dalam tingkat disorientasi kognitif yang sebanding dengan yang dialami oleh karakter utama, Thomas. Hal ini segera menciptakan suasana gelap yang sangat penting untuk sebuah cerita dunia dystopia.
Teori Abjeksi dan Monstrous-Feminine dari Barbara Creed kemudian meningkatkan ketegangan formal yang dibangun melalui struktur plot tersebut secara sosiopsikologis. Sebagai hasil dari analisis, ketakutannya yang sebenarnya dari dunia dystopia The Maze Runner tidak hanya terletak pada isolasi fisik karakter di The Glade, tetapi juga pada perjuangan terus-menerus mereka dengan hal-hal absurd. Monster Griever adalah makhluk abjek biomekanis yang merusak batas suci antara yang organik dan yang sibernetik, sementara labirin yang bergeser melambangkan ketidakstabilan batas tatanan simbolik. Selain itu, kehadiran Dr. Ava Paige sebagai pemimpin organisasi WCKD menunjukkan represi otoriter yang digerakkan oleh figur perempuan yang mengerikan dan mengerikan, sebuah otoritas ibu yang mengubah naluri merawat menjadi penggunaan dan pembunuhan generasi muda untuk mempertahankan struktur kekuasaan.
Secara teoretis, penelitian ini menunjukkan bahwa penggabungan metode formalis David Bordwell dan psikoanalisis kultural Barbara Creed dapat menghasilkan analisis media yang kaya dan multidimensi. Sinergi antara pembatasan informasi film dan visualisasi ruang abjek berhasil membawa novel ke layar lebar. Ini juga memperkuat kritik penting tentang genre dystopia tentang bagaimana kekuasaan totalitarian di masa depan menggunakan manipulasi pengetahuan, tata ruang yang opresif, dan desakralisasi batas-batas manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Ball, W. (Sutradara). (2014). The Maze Runner [Film]. 20th Century Fox.
Bordwell, D. (1985). Narration in the fiction film. University of Wisconsin Press.
Bordwell, D. (2008). Poetics of cinema. Routledge.
Creed, B. (1993). The monstrous-feminine: Film, feminism, psychoanalysis. Routledge.
Dashner, J. (2009). The maze runner. Delacorte Press.
Kristeva, J. (1982). Powers of horror: An essay on abjection. Columbia University Press.
Mulvey, L. (1975). Visual pleasure and narrative cinema. Screen, 16(3), 6–18.
Pratama, R. (2022). Representasi resistensi kelas muda dalam film fiksi ilmiah abad ke-21. Jurnal Sinema Indonesia, 8(2), 112–125.
Wardani, A. (2019). Ekranisasi novel ke film: Analisis struktural komparatif trilogi The Maze Runner. Jurnal Sastra Komparatif, 4(1), 45–58.