Muhamad Arif
Muhamad Arif Mahasiswa

Undergraduate Film and Television Student in Universitas Pendidikan Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Video

Analisis Rekonstruksi Naratif Dunia Dystopia Film The Maze Runner Melalui Pendekatan Neoformalismus David Bordwell dan Teori Abjeksi Barbara Creed

2 Juni 2026   20:50 Diperbarui: 2 Juni 2026   22:28 142 1 0

Fabula, atau cerita, adalah ide yang ditanamkan oleh penonton secara mandiri dalam pikiran mereka selama dan setelah menonton film. Fabula mencakup semua peristiwa yang terjadi dalam urutan kronologis, hubungan sebab-akibat (kausalitas), ruang, dan waktu. Ini termasuk peristiwa yang tidak ditampilkan secara langsung di layar tetapi dapat dipahami oleh penonton dengan logika. Sebaliknya, cerita, juga dikenal sebagai plot, adalah rangkaian arsitektur visual dan audio yang ditampilkan secara langsung kepada penonton sepanjang durasi film. Plot termasuk keputusan sutradara tentang adegan mana yang ditampilkan terlebih dahulu, informasi apa yang ditunda, dan bagaimana ritme penyuntingan mengendalikan perasaan penonton.

Narasi (Naration) adalah proses yang menghubungkan syuzhet dengan pembentukan cerita dalam pikiran penonton. Manipulasi pengetahuan, juga dikenal sebagai pengetahuan terbatas, adalah salah satu pendekatan narasi yang paling efektif untuk menciptakan ketegangan, menurut Bordwell. Ketika sebuah cerita membatasi informasi hanya pada apa yang diketahui, didengar, dan dilihat oleh satu karakter tertentu, penonton akan mengalami rasa ingin tahu yang sama besar dengan karakter tersebut dan menjadi tidak nyaman. Analisis Bordwell berfokus pada bagaimana syuzhet film mengompresi atau mereorganisasi cerita yang luas yang ada dalam novel agar penceritaan sinematik menjadi efektif.

Teori Barbara Creed membedah substansi psikologis dan representasi kultural ancaman dalam dystopia, sedangkan teori Bordwell digunakan untuk menguliti anatomi formal narasi. Dalam bukunya yang berjudul Powers of Horror, psikoanalis Julia Kristeva menciptakan konsep abjeksi, yang mendasari pemikiran Creed. Kristeva menganggap abjek sebagai sesuatu yang mengganggu identitas, sistem, atau struktur masyarakat. Abjek adalah hal-hal yang tidak menghormati batas, peraturan, atau lokasi yang telah ditetapkan dalam sistem simbolik manusia. Jika sesuatu mengingatkan kita pada kerapuhan eksistensi manusia, seperti mayat, darah, atau kotoran, atau hibriditas yang mengaburkan batas antara yang hidup dan yang mati, itu menjadi abjek.

Barbara Creed menciptakan istilah the monstrous-feminine dan memasukkan gagasan ini ke dalam bidang studi film, terutama film horor dan fiksi ilmiah. Creed menantang pendekatan psikoanalisis konvensional yang dianut oleh Laura Mulvey dan Freud, yang hanya menggambarkan perempuan dalam sinema sebagai korban pengebirian atau objek pasif dari tatapan laki-laki (male gaze). Sebaliknya, Creed menyatakan bahwa film sering mengonstruksi figur perempuan sebagai subjek monster yang aktif, mengerikan, dan mengancam tatanan patriarki. Monster perempuan ini biasanya dikaitkan dengan tugas ibu yang menghancurkan, tubuh yang menolak klasifikasi normal, dan peran sebagai "ibu primordial" yang melahirkan dan menelan kembali anak-anaknya.

Konsep abjeksi dan monstrous-feminine digunakan dalam cerita dystopia seperti The Maze Runner untuk menggambarkan ancaman yang dihadapi oleh karakter. Dalam banyak kasus, dunia dystopia dicirikan oleh upaya para penguasa untuk menerapkan keteraturan mekanis, mutlak, dan steril. Oleh karena itu, monster, kegelapan, dan kekacauan biologis yang ada di luar batas keteraturan tersebut merupakan gangguan yang harus disingkirkan atau dikendalikan. Dari perspektif Creed, karakter-karakter yang diwakili oleh wanita atau makhluk hibrida yang ada di Labirin dapat dianggap sebagai representasi dari rasa takut yang mendalam yang dipegang oleh struktur sosial terhadap kekuasaan ibu yang tidak etis dan teknologi yang melanggar batas alam manusia.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Transformasi Fabula ke Syuzhet: Strategi Pembatasan Informasi Sinematik

Saat melihat The Maze Runner dari perspektif David Bordwell, hal pertama yang harus diperhatikan adalah bagaimana plot sinematik (syuzhet) mengambil alih cetak biru cerita (fabula) yang luas dari James Dashner. Dashner membangun cerita yang rumit dalam bukunya tentang fenomena alam yang dikenal sebagai The Flare, atau sinar matahari, yang mengakibatkan kerusakan Bumi dan menyebabkan virus berbahaya yang menyerang sistem saraf pusat manusia. Selain itu, novel memungkinkan Thomas dan Teresa untuk menggunakan kemampuan telepati mereka; elemen ini meningkatkan pemahaman pembaca tentang hubungan mereka sebelumnya dengan organisasi WCKD (World In Catastrophe: Killzone Experiment Department).

Namun, aspek telepati ini dihilangkan sepenuhnya dalam cerita film yang diarahkan oleh Wes Ball. Penghapusan ini bukan sekadar efisiensi durasi, melainkan sebuah strategi narasi yang disengaja untuk memperkuat efek kognitif dari restricted narration (narasi terbatas). Dengan menghilangkan komunikasi telepatik, sutradara berhasil menyesuaikan pandangan penonton dengan ketidaktahuan Thomas. Sejak menit pertama film dimulai, adegan yang menunjukkan Thomas terbangun di dalam The Box, sebuah lift bergerak gelap. Tidak ada prolog, teks pembuka, atau narasi suara yang menjelaskan latar belakang dunia kepada penonton. Penonton disorientasi secara fisik dan spatial karena strategi syuzhet yang menahan informasi eksposisi ini. Penonton hanya mengetahui apa yang Thomas ketahui saat dia dilemparkan ke tengah komunitas The Glade, sebuah area terbuka yang dikelilingi oleh tembok Labirin raksasa. Dia juga merasakan kepanikan yang sama.

Bordwell mengatakan bahwa dalam tradisi naratif Hollywood, penonton biasanya dipandu melalui penjelasan yang jelas di awal cerita untuk membuat mereka nyaman. Namun, kenyamanan tersebut sengaja dihancurkan dalam The Maze Runner untuk merekonstruksi esensi dunia dystopia itu sendiri. Dunia dystopia adalah dunia yang tidak terlihat, penuh dengan rahasia, dan dikontrol oleh asimetri informasi. Struktur syuzhet film ini menggunakan kontrol informasi sebagai sumber ketegangan utama. Setiap kali Thomas mencoba menanyakan apa yang ada di balik tembok, karakter lain seperti Alby atau Gally menolak untuk memberikan informasi itu, menyatakan bahwa aturan utama di The Glade adalah bahwa tidak ada orang yang boleh masuk ke Labirin kecuali mereka yang telah dipilih sebagai Runners. Pembatasan informasi ini mendorong aktivitas kognitif penonton untuk membuat hipotesis sementara tentang fungsi ruang isolasi ini. Ini menciptakan hubungan psikologis yang kuat antara penonton dan perjuangan karakter.

Penataan waktu (temporal order) menunjukkan pergeseran fabula ke syuzhet ini. Dalam novel, serangkaian kilas balik yang cukup detail secara verbal digambarkan tentang bagaimana karakter memperbaiki ingatan mereka tentang peristiwa yang disebut The Changing (disengat oleh Griever). Namun, ingatan masa lalu Thomas digambarkan dalam film dengan fragmen-fragmen gambar yang buram, suara-suara yang terdistorsi, dan kilatan wajah Dr. Ava Paige. Metode penyuntingan kilas balik yang terfragmentasi ini menunjukkan bahwa ingatan dalam dunia dystopia telah dikomodifikasi dan dimanipulasi oleh kekuasaan yang berkuasa. Film berhasil mengubah pandangan penonton dari seseorang yang melihat dari sudut pandang luar menjadi orang yang benar-benar mengalami klaustrofobia psikologis dari sistem tirani melalui arsitektur syuzhet yang ketat ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5