Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Kisah Omjay: Cara Baru Guru Indonesia Mengubah Masa Depan Murid

1 April 2026   12:02 Diperbarui: 1 April 2026   12:02 310 3 3

sosialisasi kemdikdasmen/dokpri
sosialisasi kemdikdasmen/dokpri

Menyemai Perubahan dari Kelas: Wajah Baru Pembelajaran Mendalam dan Koding AI di Tahun 2026. Inilah kisah Omjay tentang "Revolusi Diam di Kelas: Cara Baru Guru Indonesia Mengubah Masa Depan Murid". Sebuah sosialisasi program PM-KKA tahun 2026 dari kemdikdasmen. Klik https://www.youtube.com/watch?v=x5uVKniaD_0


Tanggal 11 Maret 2026 menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan transformasi pendidikan Indonesia. Melalui sosialisasi program PM-KKA 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, arah baru pembelajaran di sekolah semakin dipertegas: pembelajaran harus lebih bermakna, lebih kontekstual, dan yang terpenting, benar-benar berpihak pada murid.

Bukan sekadar program, ini adalah gerakan perubahan. Dari Angka Menuju Makna. Jika melihat capaian tahun 2025, kita patut bersyukur. Program Pembelajaran Mendalam (PM) telah menjangkau 88% dari target satuan pendidikan. Lebih dari 186 ribu pendidik dan tenaga kependidikan telah mengikuti pelatihan. Angka yang besar. Angka yang membanggakan.

Namun, di balik angka-angka itu, ada cerita yang lebih penting. Di ruang-ruang kelas, mulai tampak perubahan. Guru tidak lagi menjadi pusat segalanya. Murid mulai dilibatkan. Diskusi hidup. Kelas tidak lagi kaku. Media pembelajaran semakin beragam---video, gambar interaktif, bahkan eksperimen sederhana yang menghidupkan suasana belajar.

Tetapi perubahan besar tidak pernah datang tanpa tantangan. Realitas di Lapangan: Antara Harapan dan Tantangan. Hasil kajian tahun 2025 menunjukkan bahwa masih banyak guru yang belum sepenuhnya memahami bagaimana menerjemahkan konsep pembelajaran mendalam ke dalam praktik nyata.

Beberapa hal yang menjadi catatan penting antara lain:

  • Murid belum sepenuhnya dilibatkan sebagai "co-designer" dalam pembelajaran

  • Aktivitas "menyenangkan" sering disalahartikan hanya sebagai kegiatan fisik, bukan proses berpikir yang mendalam

  • Materi pelatihan yang terlalu padat membuat implementasi di kelas kurang optimal

  • Pendampingan di tingkat sekolah dan daerah masih belum maksimal

Di sinilah letak tantangan sebenarnya: bukan pada konsep, tetapi pada implementasi. 2026: Tahun Akselerasi dan Penyempurnaan Memasuki tahun 2026, pemerintah tidak tinggal diam. Program ini justru dipercepat dengan target yang lebih ambisius: 50% satuan pendidikan di Indonesia mengimplementasikan pembelajaran mendalam.

Bagaimana caranya?

Pendekatannya berubah. Lebih sederhana, lebih fokus, dan lebih membumi.

1. Menguatkan Kelompok Kerja Guru

Pelatihan tidak lagi berdiri sendiri, tetapi berbasis komunitas seperti KKG, MGMP, dan MKKS. Guru belajar bersama, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan.

2. Hadirnya Fasilitator Lokal

Guru-guru terbaik hasil pelatihan sebelumnya diberdayakan menjadi fasilitator. Mereka bukan hanya mengajar, tetapi mendampingi.

3. Materi yang Lebih Ringkas dan Tajam

Tidak lagi terlalu banyak teori. Materi dibuat dalam paket singkat 3--4 jam yang langsung bisa dipraktikkan di kelas.

4. Pendekatan TET (Teacher Experimental Training)

Inilah jantung perubahan.

Siklusnya sederhana namun kuat:

  • Identifikasi masalah di kelas

  • Mendesain solusi

  • Menerapkan di kelas

  • Mengamati hasilnya

  • Melakukan refleksi

  • Berbagi praktik baik

Dan yang paling penting: dilakukan berulang (continuous improvement). Sekolah bukan lagi tempat mengajar semata, tetapi menjadi laboratorium pembelajaran. Belajar Tidak Lagi Sekadar Duduk dan Mendengar. Salah satu perubahan menarik adalah penggunaan pendekatan flipped classroom.

Guru dan peserta pelatihan:

  • Belajar mandiri melalui LMS

  • Menganalisis studi kasus

  • Menonton video pembelajaran

  • Lalu datang ke sesi tatap muka untuk berdiskusi, simulasi, dan praktik

Artinya, waktu tatap muka digunakan untuk berpikir, bukan sekadar menerima informasi. Inilah pembelajaran abad 21 yang sesungguhnya. Ada 70% Praktik, 30% Teori. Jika dulu pelatihan identik dengan teori panjang, kini komposisinya berubah drastis:

  • 10% teori

  • 20% belajar bersama

  • 70% praktik di sekolah

Artinya, perubahan tidak lagi berhenti di ruang pelatihan. Ia hidup di kelas, bersama murid. Koding dan Kecerdasan Artifisial: Bekal Masa Depan. Selain pembelajaran mendalam, program Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) juga menjadi fokus utama.

Capaian 2025 menunjukkan:

  • 97% target pelatihan tercapai

  • Lebih dari 53 ribu guru telah dilatih

  • 38% sekolah mulai menerapkan KKA sebagai mata pelajaran pilihan

Namun, lagi-lagi, tantangan ada pada keberlanjutan. Maka di tahun 2026, strategi diperkuat:

  • Materi diperluas dari unplugged hingga coding lanjutan

  • Sekolah dipilih berdasarkan kesiapan, bukan sekadar target

  • Guru bekerja dalam tim, bukan sendiri

  • Platform seperti Ruang GTK dimanfaatkan sebagai pusat berbagi praktik baik

Pendekatannya sederhana: tidak memaksa semua, tetapi memastikan yang siap benar-benar berjalan dengan baik.

Kolaborasi Jadi Kunci.  Program ini tidak mungkin berjalan sendiri. Ada peran banyak pihak:

  • Direktorat sebagai pengarah kebijakan

  • UPT sebagai pelaksana teknis

  • Dinas pendidikan sebagai penghubung

  • Kepala sekolah sebagai pemimpin perubahan

  • Guru sebagai pelaksana utama

Dan yang sering terlupakan---komunitas guru sebagai penggerak nyata di lapangan. Sebuah Harapan dari Ruang Kelas Jika kita melihat lebih dalam, program ini bukan tentang pelatihan, bukan tentang angka, dan bukan tentang laporan.

Ini tentang seorang guru yang mulai berani mencoba cara baru. Tentang murid yang akhirnya berani bertanya. Tentang kelas yang tidak lagi sunyi, tetapi penuh makna.

Perubahan besar tidak datang dari kebijakan besar saja. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Dan di tahun 2026 ini, kita sedang menyaksikan sebuah proses itu berjalan. Pelan, tapi pasti.

Penutup

Transformasi pendidikan tidak pernah instan. Ia butuh waktu, kesabaran, dan keberanian untuk terus mencoba. Program PM dan KKA 2026 mengajarkan kita satu hal penting: bahwa perubahan sejati dimulai dari ruang kelas, dari guru yang mau belajar, dan dari murid yang diberi kesempatan untuk tumbuh.

Jika siklus kecil itu terus berputar---identifikasi, praktik, refleksi, dan berbagi---maka bukan tidak mungkin, pendidikan Indonesia akan benar-benar berubah dari dalam. Bukan sekadar lebih baik, tetapi lebih manusiawi.

Pada akhirnya, perubahan besar itu tidak lahir dari kebijakan yang megah, tetapi dari langkah kecil seorang guru yang memilih untuk tidak menyerah. Di setiap kelas yang mulai hidup, di setiap murid yang berani bermimpi, di situlah masa depan Indonesia sedang ditulis---perlahan, tulus, dan penuh harapan.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay/Kakek Jay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Omjay Guru Blogger Indonesia/dokpri
Omjay Guru Blogger Indonesia/dokpri
  1. pembelajaran mendalam 2026

  2. program PM KKA

  3. transformasi pendidikan Indonesia

  4. inovasi pembelajaran guru

  5. koding dan AI di sekolah

  6. kurikulum masa depan Indonesia

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7