Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Menyemai Perubahan dari Kelas: Wajah Baru Pembelajaran Mendalam dan Koding AI di Tahun 2026. Inilah kisah Omjay tentang "Revolusi Diam di Kelas: Cara Baru Guru Indonesia Mengubah Masa Depan Murid". Sebuah sosialisasi program PM-KKA tahun 2026 dari kemdikdasmen. Klik https://www.youtube.com/watch?v=x5uVKniaD_0
Tanggal 11 Maret 2026 menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan transformasi pendidikan Indonesia. Melalui sosialisasi program PM-KKA 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, arah baru pembelajaran di sekolah semakin dipertegas: pembelajaran harus lebih bermakna, lebih kontekstual, dan yang terpenting, benar-benar berpihak pada murid.
Bukan sekadar program, ini adalah gerakan perubahan. Dari Angka Menuju Makna. Jika melihat capaian tahun 2025, kita patut bersyukur. Program Pembelajaran Mendalam (PM) telah menjangkau 88% dari target satuan pendidikan. Lebih dari 186 ribu pendidik dan tenaga kependidikan telah mengikuti pelatihan. Angka yang besar. Angka yang membanggakan.
Namun, di balik angka-angka itu, ada cerita yang lebih penting. Di ruang-ruang kelas, mulai tampak perubahan. Guru tidak lagi menjadi pusat segalanya. Murid mulai dilibatkan. Diskusi hidup. Kelas tidak lagi kaku. Media pembelajaran semakin beragam---video, gambar interaktif, bahkan eksperimen sederhana yang menghidupkan suasana belajar.
Tetapi perubahan besar tidak pernah datang tanpa tantangan. Realitas di Lapangan: Antara Harapan dan Tantangan. Hasil kajian tahun 2025 menunjukkan bahwa masih banyak guru yang belum sepenuhnya memahami bagaimana menerjemahkan konsep pembelajaran mendalam ke dalam praktik nyata.
Beberapa hal yang menjadi catatan penting antara lain:
Murid belum sepenuhnya dilibatkan sebagai "co-designer" dalam pembelajaran
Aktivitas "menyenangkan" sering disalahartikan hanya sebagai kegiatan fisik, bukan proses berpikir yang mendalam
Materi pelatihan yang terlalu padat membuat implementasi di kelas kurang optimal
Pendampingan di tingkat sekolah dan daerah masih belum maksimal
Di sinilah letak tantangan sebenarnya: bukan pada konsep, tetapi pada implementasi. 2026: Tahun Akselerasi dan Penyempurnaan Memasuki tahun 2026, pemerintah tidak tinggal diam. Program ini justru dipercepat dengan target yang lebih ambisius: 50% satuan pendidikan di Indonesia mengimplementasikan pembelajaran mendalam.
Bagaimana caranya?
Pendekatannya berubah. Lebih sederhana, lebih fokus, dan lebih membumi.
1. Menguatkan Kelompok Kerja Guru
Pelatihan tidak lagi berdiri sendiri, tetapi berbasis komunitas seperti KKG, MGMP, dan MKKS. Guru belajar bersama, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan.
2. Hadirnya Fasilitator Lokal
Guru-guru terbaik hasil pelatihan sebelumnya diberdayakan menjadi fasilitator. Mereka bukan hanya mengajar, tetapi mendampingi.
3. Materi yang Lebih Ringkas dan Tajam
Tidak lagi terlalu banyak teori. Materi dibuat dalam paket singkat 3--4 jam yang langsung bisa dipraktikkan di kelas.
4. Pendekatan TET (Teacher Experimental Training)
Inilah jantung perubahan.
Siklusnya sederhana namun kuat:
Identifikasi masalah di kelas
Mendesain solusi
Menerapkan di kelas
Mengamati hasilnya
Melakukan refleksi
Berbagi praktik baik
Dan yang paling penting: dilakukan berulang (continuous improvement). Sekolah bukan lagi tempat mengajar semata, tetapi menjadi laboratorium pembelajaran. Belajar Tidak Lagi Sekadar Duduk dan Mendengar. Salah satu perubahan menarik adalah penggunaan pendekatan flipped classroom.
Guru dan peserta pelatihan:
Belajar mandiri melalui LMS
Menganalisis studi kasus
Menonton video pembelajaran
Lalu datang ke sesi tatap muka untuk berdiskusi, simulasi, dan praktik
Artinya, waktu tatap muka digunakan untuk berpikir, bukan sekadar menerima informasi. Inilah pembelajaran abad 21 yang sesungguhnya. Ada 70% Praktik, 30% Teori. Jika dulu pelatihan identik dengan teori panjang, kini komposisinya berubah drastis:
10% teori
20% belajar bersama
70% praktik di sekolah
Artinya, perubahan tidak lagi berhenti di ruang pelatihan. Ia hidup di kelas, bersama murid. Koding dan Kecerdasan Artifisial: Bekal Masa Depan. Selain pembelajaran mendalam, program Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) juga menjadi fokus utama.
Capaian 2025 menunjukkan:
97% target pelatihan tercapai
Lebih dari 53 ribu guru telah dilatih
38% sekolah mulai menerapkan KKA sebagai mata pelajaran pilihan
Namun, lagi-lagi, tantangan ada pada keberlanjutan. Maka di tahun 2026, strategi diperkuat:
Materi diperluas dari unplugged hingga coding lanjutan
Sekolah dipilih berdasarkan kesiapan, bukan sekadar target
Guru bekerja dalam tim, bukan sendiri
Platform seperti Ruang GTK dimanfaatkan sebagai pusat berbagi praktik baik
Pendekatannya sederhana: tidak memaksa semua, tetapi memastikan yang siap benar-benar berjalan dengan baik.
Kolaborasi Jadi Kunci. Program ini tidak mungkin berjalan sendiri. Ada peran banyak pihak:
Direktorat sebagai pengarah kebijakan
UPT sebagai pelaksana teknis
Dinas pendidikan sebagai penghubung
Kepala sekolah sebagai pemimpin perubahan
Guru sebagai pelaksana utama
Dan yang sering terlupakan---komunitas guru sebagai penggerak nyata di lapangan. Sebuah Harapan dari Ruang Kelas Jika kita melihat lebih dalam, program ini bukan tentang pelatihan, bukan tentang angka, dan bukan tentang laporan.
Ini tentang seorang guru yang mulai berani mencoba cara baru. Tentang murid yang akhirnya berani bertanya. Tentang kelas yang tidak lagi sunyi, tetapi penuh makna.
Perubahan besar tidak datang dari kebijakan besar saja. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Dan di tahun 2026 ini, kita sedang menyaksikan sebuah proses itu berjalan. Pelan, tapi pasti.
Penutup
Transformasi pendidikan tidak pernah instan. Ia butuh waktu, kesabaran, dan keberanian untuk terus mencoba. Program PM dan KKA 2026 mengajarkan kita satu hal penting: bahwa perubahan sejati dimulai dari ruang kelas, dari guru yang mau belajar, dan dari murid yang diberi kesempatan untuk tumbuh.
Jika siklus kecil itu terus berputar---identifikasi, praktik, refleksi, dan berbagi---maka bukan tidak mungkin, pendidikan Indonesia akan benar-benar berubah dari dalam. Bukan sekadar lebih baik, tetapi lebih manusiawi.
Pada akhirnya, perubahan besar itu tidak lahir dari kebijakan yang megah, tetapi dari langkah kecil seorang guru yang memilih untuk tidak menyerah. Di setiap kelas yang mulai hidup, di setiap murid yang berani bermimpi, di situlah masa depan Indonesia sedang ditulis---perlahan, tulus, dan penuh harapan.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia

transformasi pendidikan Indonesia