Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
https://youtu.be/1FzIsE4KBPg?si=x7_pvQaJdgef3hhe
Inilah Nasib Guru dan SPPG yang bikin sedih: Antara Pengabdian dan Harapan yang Terpinggirkan
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Ilustrasi sederhana seringkali justru mampu menyampaikan pesan yang sangat dalam. Gambar seorang guru yang mengayuh sepeda tua dengan wajah lelah, berdampingan dengan sosok lain yang mengendarai motor gagah dengan perlengkapan lengkap, menjadi simbol perbandingan yang menyentuh hati. Judulnya jelas: Nasib Guru dan SPPG. Sebuah realitas yang tidak selalu mudah diterima, tetapi nyata dirasakan oleh banyak insan pendidik di negeri ini.

Guru adalah profesi mulia. Sejak dahulu, guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka hadir di ruang-ruang kelas, mengabdikan diri untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Mereka membimbing, mendidik, bahkan menjadi orang tua kedua bagi siswa-siswinya. Namun, di balik semua pengabdian itu, tidak sedikit guru yang masih harus berjuang dalam keterbatasan ekonomi dan kesejahteraan.
Gambaran guru yang masih menggunakan sepeda bukan sekadar simbol fisik, tetapi juga representasi dari perjuangan panjang yang belum sepenuhnya mendapatkan perhatian serius. Di banyak daerah, khususnya di pelosok negeri, guru masih menghadapi berbagai tantangan: akses yang sulit, fasilitas terbatas, hingga penghasilan yang belum layak.
Di sisi lain, muncul berbagai profesi baru dengan sistem kerja yang lebih fleksibel dan pendapatan yang relatif lebih menjanjikan. Dalam ilustrasi tersebut, sosok pengendara motor bisa dimaknai sebagai representasi profesi lain yang dalam waktu singkat mampu meningkatkan taraf hidup. Ini bukan untuk membandingkan secara negatif, tetapi sebagai refleksi bahwa kesejahteraan guru masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi bangsa ini.
Program-program pemerintah seperti sertifikasi guru dan berbagai tunjangan sebenarnya sudah menjadi langkah positif. Namun, implementasinya belum merata. Masih banyak guru honorer yang belum mendapatkan kepastian status dan kesejahteraan yang layak. Mereka tetap mengajar dengan penuh dedikasi, meskipun terkadang harus mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Fenomena ini tentu memunculkan pertanyaan besar: mengapa profesi yang begitu vital bagi masa depan bangsa justru belum mendapatkan perhatian maksimal? Bukankah kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas dan kesejahteraan gurunya?
Sebagai seorang guru, saya (Omjay) merasakan langsung dinamika ini. Menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan jiwa. Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat siswa berhasil, ketika mereka memahami pelajaran, ketika mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, di sisi lain, realitas kehidupan tetap harus dihadapi.
Banyak guru yang akhirnya berada pada dilema. Di satu sisi ingin terus mengabdi, di sisi lain harus memikirkan masa depan keluarga. Tidak sedikit yang akhirnya beralih profesi atau menjalani pekerjaan ganda. Hal ini tentu berdampak pada fokus dan kualitas pembelajaran.
Kita tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan ini. Dibutuhkan kebijakan yang lebih berpihak kepada guru, terutama guru honorer dan mereka yang berada di daerah terpencil. Pemerataan kesejahteraan harus menjadi prioritas, bukan sekadar wacana.
Selain itu, masyarakat juga perlu memberikan penghargaan yang lebih tinggi kepada guru. Tidak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dalam sikap dan penghormatan. Guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi pembentuk karakter generasi bangsa.
Di era digital seperti sekarang, tantangan guru semakin kompleks. Mereka dituntut untuk terus belajar, beradaptasi dengan teknologi, dan menghadirkan pembelajaran yang menarik. Namun, semua itu membutuhkan dukungan, baik dari pemerintah maupun masyarakat.
Ilustrasi "Nasib Guru dan SPPG" seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Bukan untuk menyudutkan pihak tertentu, tetapi untuk membuka mata kita semua bahwa masih ada ketimpangan yang perlu diperbaiki.
Harapan ke depan, guru tidak lagi digambarkan sebagai sosok yang tertinggal, tetapi sebagai profesi yang sejahtera, dihormati, dan menjadi pilihan utama generasi muda. Kita ingin melihat lebih banyak anak-anak bangsa yang bercita-cita menjadi guru, bukan justru menghindarinya karena alasan kesejahteraan.
Sebagai penutup, saya ingin mengajak kita semua untuk merenung: jika kita ingin masa depan bangsa yang lebih baik, maka kita harus mulai dari memperhatikan nasib gurunya. Karena di tangan merekalah masa depan itu dibentuk.
Guru bukan sekadar profesi. Guru adalah fondasi peradaban. Dan sudah saatnya fondasi itu kita perkuat, kita hargai, dan kita sejahterakan.
Salam blogger persahabatan
Omjay/Kakek Jay
