Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

PERNAH MERASAKAN HOKI YANG SULIT DIPERCAYA?
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Kisah Omjay kali ini memenuhi topik pilihan kompasiana. Pernahkah Anda merasakan keberuntungan yang begitu luar biasa sampai sulit dipercaya? Saya Omjay pernah mengalaminya. Bahkan hingga hari ini, ketika mengingat kejadian itu, saya masih sering tersenyum sendiri sambil berkata dalam hati, "Masya Allah, kalau bukan karena pertolongan Allah, mungkin semua itu tidak akan terjadi."
*Berbagi Pengalaman 9 Hari di Jepang (1)*
Peristiwa itu terjadi sekitar 10 tahun lalu. Facebook Omjay hari ini mengingatkannya. Saat itu saya hanyalah seorang guru biasa yang setiap hari mengajar dengan penuh semangat. Saya Omjay tidak pernah membayangkan akan mendapatkan kesempatan emas yang mungkin menjadi impian banyak orang: dipercaya membimbing siswa ke Jepang.
Ya, Jepang!

Negeri sakura yang selama ini hanya saya lihat lewat televisi, majalah, dan cerita orang-orang. Negeri yang terkenal dengan kedisiplinan, teknologi tinggi, budaya kerja keras, dan kebersihannya. Jujur saja, saat pertama kali mendengar kabar itu, saya sempat mengira sedang bercanda.
Awalnya semua berjalan biasa saja. Saya masih sibuk mengajar, menulis blog, dan mendampingi kegiatan siswa di sekolah. Aktivitas saya sebagai guru blogger juga belum sebesar sekarang. Namun ternyata, diam-diam ada orang-orang yang memperhatikan kerja keras dan dedikasi saya selama ini.

Suatu hari, saya dipanggil oleh pimpinan sekolah. Dengan wajah serius tetapi penuh senyum, beliau mengatakan bahwa sekolah sedang menyiapkan program kunjungan edukasi ke Jepang dan membutuhkan guru pendamping yang dianggap mampu membimbing siswa dengan baik.
Ketika nama saya disebut sebagai salah satu guru yang dipercaya ikut mendampingi siswa ke Jepang, saya benar-benar terdiam.
"Omjay siap ke Jepang?" tanya beliau sambil tersenyum.
Saya hampir tidak bisa menjawab. Pikiran saya campur aduk antara bahagia, bingung, dan tidak percaya. Dalam hati saya berkata, "Kenapa saya? Bukankah masih banyak guru lain yang lebih hebat?"
Namun mungkin inilah yang disebut rezeki tak terduga. Kadang keberuntungan datang bukan kepada orang yang paling pintar, tetapi kepada mereka yang terus berusaha dan bekerja dengan tulus.
Sejak saat itu hidup saya terasa berubah. Saya mulai mengurus paspor, mempersiapkan dokumen perjalanan, hingga belajar sedikit demi sedikit tentang budaya Jepang. Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan.
Bahkan saya pernah menulis pengalaman itu di artikel Kompasiana berjudul "Dengan Modal Arigatou Ghozaimas, Omjay Nekad Pergi ke Jepang". Dalam tulisan tersebut saya bercerita bagaimana keberanian dan tekad bisa mengalahkan rasa takut. Kompasiana telah ikut andil dalam memberangkat Omjay ke Jepang. Sebab Gara-gara rajin menulis di kompasiana, Omjay dipercaya pergi ke Jepang.
Lucunya, kemampuan bahasa Jepang saya saat itu sangat minim. Modal saya hanya beberapa kata sederhana seperti "Arigatou Gozaimasu" yang berarti terima kasih, "Ohayou Gozaimasu" untuk selamat pagi, dan "Sumimasen" untuk permisi atau maaf. (Kepo Jepang).
Namun justru dari keterbatasan itulah saya belajar bahwa keberanian melangkah lebih penting daripada menunggu sempurna.
Hari keberangkatan pun tiba. Bandara Soekarno-Hatta menjadi saksi bagaimana hati saya berdebar-debar seperti anak kecil yang baru pertama kali naik pesawat. Saya memandangi siswa-siswa yang begitu antusias sambil dalam hati berdoa agar perjalanan kami berjalan lancar.
Saat pesawat lepas landas, saya merasakan campuran emosi yang sulit dijelaskan. Ada rasa haru, bangga, sekaligus tidak percaya. Anak kampung yang dulu hanya bermimpi melihat dunia, kini benar-benar terbang menuju Jepang.
Setibanya di Jepang, saya benar-benar takjub. Semua tampak begitu teratur. Kereta datang tepat waktu. Jalanan bersih. Orang-orang disiplin. Bahkan anak-anak kecil pun terbiasa antre dengan tertib.
Saya banyak belajar dari perjalanan itu. Jepang mengajarkan bahwa kemajuan bangsa tidak datang secara instan. Semua dibangun melalui budaya disiplin, kerja keras, dan rasa tanggung jawab sejak kecil. Budaya mengucapkan salam, terima kasih, dan meminta maaf menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat Jepang. (Kompasiana)
Namun pengalaman paling berharga justru terjadi ketika saya mendampingi siswa selama di sana. Saya melihat bagaimana anak-anak Indonesia ternyata mampu bersaing dan tampil percaya diri di negeri orang. Mereka belajar budaya baru, berkomunikasi dengan masyarakat Jepang, dan membuka wawasan tentang dunia internasional.
Sebagai guru, hati saya sangat bahagia melihat perkembangan mereka. Saya merasa perjalanan itu bukan hanya tentang pergi ke luar negeri, tetapi tentang membangun mimpi besar dalam diri siswa.
Ada satu kejadian yang sampai sekarang masih saya ingat. Saat itu salah satu siswa berkata kepada saya:
"Omjay, kalau bukan karena ikut program ini, mungkin saya tidak pernah berani bermimpi ke luar negeri."
Kalimat sederhana itu sangat membekas di hati saya. Saya sadar bahwa guru bukan sekadar mengajar di kelas. Guru juga membuka jendela dunia bagi murid-muridnya.
Sepulang dari Jepang, hidup Omjay terasa semakin berwarna. Pengalaman itu membuat saya lebih percaya diri untuk terus berkarya dan menulis. Saya semakin yakin bahwa dunia pendidikan dapat membawa seseorang menuju tempat-tempat luar biasa.
Kadang kita memang tidak pernah tahu jalan hidup yang sudah Tuhan siapkan. Siapa sangka seorang guru yang gemar menulis blog sederhana akhirnya bisa mendapatkan kesempatan mendampingi siswa ke Jepang?
Karena itu saya selalu percaya bahwa keberuntungan tidak datang begitu saja. Hoki sering kali menghampiri orang-orang yang terus bergerak, terus belajar, dan tidak menyerah dalam menjalani hidup.
Banyak orang melihat hasil akhirnya saja. Mereka bilang, "Wah Omjay hoki banget!"
Padahal di balik keberuntungan itu ada proses panjang, kerja keras, keikhlasan mengajar, dan kebiasaan berbagi ilmu kepada banyak orang. Omjay selalu membagikan pengalamannya melalui blog di internet.
Pengalaman ke Jepang itu menjadi salah satu hadiah terindah dalam hidup saya sebagai guru. Hingga hari ini, saya masih bersyukur pernah diberi kesempatan luar biasa tersebut.
Dan saya percaya, setiap orang punya "Jepangnya" masing-masing. Ada yang mendapat kesempatan kuliah, naik jabatan, bertemu orang hebat, atau berhasil mewujudkan mimpi yang dulu terasa mustahil.
Tugas kita hanyalah terus berusaha, berbuat baik, dan tidak berhenti bermimpi. Karena kadang, hoki terbesar datang pada saat kita hampir tidak percaya bahwa itu bisa terjadi.
Omjay sudah buktikan berangkat ke Jepang berkat rajin menulis setiap hari di kompasiana. Berikut ini video kisah nyata Omjay di youtube. Semoga bermanfaat. Setelah itu banyak hoki lainnya yang Omjay dapatkan berkat keajaiban menulis di blog.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay

#Omjay
#GuruBloggerIndonesia
#PerjalananKeJepang
#KisahInspiratifGuru
#KompasianaViral
#PengalamanTakTerlupakan