Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Ketika Telepon Pagi Itu Datang: Kakak Kandung Omjay Pulang untuk Selamanya. Selamat Jalan Kakak Kandung Omjay, Almarhum Dody Achmad Fadillah. Inilah kisah Omjay guru blogger Indonesia di Kompasiana tercinta.
Pagi itu belum benar-benar terang. Udara masih terasa dingin, dan suasana rumah masih sunyi. Namun, sebuah telepon mengubah semuanya. Suara di seberang sana terdengar lirih dan berat menahan tangis. Adik saya, Nunung, mengabarkan sesuatu yang membuat dada mendadak sesak.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun... Kakang Dody meninggal dunia."
Kalimat itu begitu singkat, tetapi menghantam hati sangat dalam. Tidak ada orang yang benar-benar siap kehilangan saudara kandung. Apalagi kakak yang selama ini menjadi bagian penting perjalanan hidup kita sejak kecil.
https://youtu.be/V6Glb1gsK1g?si=T2dVaiOUu15VN7xz
Pagi itu juga, istri saya menelepon dengan suara bergetar. Berita duka itu akhirnya benar-benar nyata. Kakak kandung saya, Dody Achmad Fadilah bin Achmad Abdullah, telah berpulang ke rahmatullah pukul 06.30 pagi, karena terkena serangan jantung.
Air mata jatuh tanpa mampu ditahan. Saya Omjay terdiam cukup lama. Pikiran langsung melayang pada begitu banyak kenangan masa kecil bersama almarhum.
Tiba-tiba ingatan berhamburan seperti potongan film lama yang diputar kembali oleh kehidupan.Saya Omjay teringat saat kami masih kecil. Bermain bersama di halaman rumah, bercanda sederhana, saling mengejek, lalu tertawa bersama.
Kadang bertengkar hal kecil, tetapi beberapa menit kemudian akur kembali. Begitulah saudara kandung. Tak selalu sejalan, tetapi hati tetap terikat oleh kasih sayang yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Kakak saya bukan orang yang banyak bicara. Namun, diamnya sering kali menyimpan perhatian besar kepada keluarga. Dalam banyak keadaan, beliau selalu hadir membantu tanpa banyak meminta balasan. Sosok sederhana yang lebih banyak bekerja daripada berbicara.

Ada satu hal yang sangat membekas di hati keluarga kami. Hampir setiap hari, almarhum rajin membagikan tausyiah, video ceramah agama, dan pesan-pesan kebaikan di grup WhatsApp keluarga.
Kadang berupa potongan ayat Al-Qur'an, video ceramah singkat tentang sabar, pentingnya shalat, sedekah, hingga pengingat tentang kematian dan kehidupan akhirat.
Mungkin bagi sebagian orang itu hanya pesan biasa yang lewat di layar telepon genggam. Namun hari ini, semua kiriman itu terasa sangat berarti. Seolah almarhum sedang meninggalkan jejak nasihat untuk kami semua sebelum berpulang menghadap Allah SWT.
Kini saya Omjay baru sadar, dakwah kecil yang beliau lakukan setiap hari ternyata menjadi amal jariyah yang insya Allah terus mengalir pahalanya. Betapa mulianya orang yang mengingatkan keluarganya pada kebaikan, walau hanya lewat sebuah video singkat di WhatsApp.
Hari ini, video-video tausyiah yang dulu sering muncul di grup keluarga justru menghadirkan rasa haru mendalam. Nama Kakang Dody masih terpampang di sana, tetapi beliau sudah tidak lagi bisa mengirim pesan seperti biasanya.
Kematian memang selalu datang tanpa mengetuk pintu. Kematian tidak pernah menunggu kita siap. Kematian datang tepat pada waktu yang sudah Allah tetapkan. Tidak bisa dimajukan, tidak bisa diundur walau satu detik pun.
Sering kali kita merasa hidup masih panjang. Masih ada waktu untuk bertemu. Masih ada kesempatan meminta maaf. Masih ada hari esok untuk berkumpul bersama keluarga. Namun pagi ini saya kembali diingatkan bahwa hidup sesungguhnya sangat singkat.
Kadang kita terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa bahwa semua yang kita cintai bisa pergi sewaktu-waktu. Hari ini saya Omjay kehilangan seorang kakak. Besok mungkin orang lain kehilangan ayah, ibu, sahabat, atau bahkan anaknya. Dunia memang tempat singgah sementara. Tidak ada manusia yang tinggal selamanya.
Hal yang membuat hati semakin sedih adalah penyesalan yang sering datang terlambat. Kita baru menyadari berharganya seseorang ketika ia sudah tiada. Itulah yang Omjay rasakan saat ini.

Saya membayangkan kembali percakapan-percakapan sederhana bersama almarhum. Candaan ringan. Nasihat singkat. Tatapan hangat seorang kakak kepada adiknya. Semua terasa begitu mahal hari ini.
Kini nomor telepon itu mungkin masih tersimpan, tetapi tidak akan pernah lagi ada suara yang menjawab. Rumah yang biasanya menjadi tempat berkumpul keluarga kini berubah menjadi rumah duka.
Tangisan pecah di mana-mana. Orang-orang berdatangan mengucapkan belasungkawa. Kalimat "yang sabar ya" terus terdengar silih berganti. Namun, sesungguhnya kehilangan saudara kandung meninggalkan ruang kosong yang sulit dijelaskan.
Dalam suasana duka seperti ini, saya kembali belajar tentang makna hidup. Ternyata yang paling penting bukanlah jabatan, bukan kekayaan, bukan popularitas, melainkan amal baik dan jejak kebaikan kepada sesama.
Saat seseorang meninggal dunia, yang dikenang keluarga bukan berapa banyak hartanya, tetapi bagaimana akhlaknya semasa hidup. Bagaimana ia memperlakukan orang lain. Bagaimana ia membantu saudara-saudaranya. Bagaimana ia membuat orang lain merasa dihargai.
Dan saya percaya, salah satu jejak indah yang ditinggalkan Kakang Dody adalah semangatnya menyebarkan dakwah dan kebaikan kepada keluarga. Mungkin sederhana, tetapi sangat bermakna.
Itulah mengapa banyak orang yang menyolatkan, mendoakan, dan mengantarkan jenazah Kakak saya sampai ke liang kubur. Kakak saya bukan orang terkenal, tapi dia orang baik dan sangat baik dengan semua adiknya.
Semoga semua amal baik Kakang Dody diterima Allah SWT. Semoga segala dosa dan khilafnya diampuni. Semoga kuburnya dilapangkan. Semoga beliau ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin ya rabbal alamin.
Kehilangan ini juga menjadi pengingat bagi saya pribadi. Bahwa hidup harus diisi dengan kebaikan selagi masih diberi kesempatan bernapas. Jangan menunda meminta maaf. Jangan pelit menunjukkan kasih sayang kepada keluarga.
Jangan terlalu sibuk dengan urusan dunia sampai lupa meluangkan waktu bersama orang-orang tercinta. Sebab pada akhirnya, yang tersisa hanyalah kenangan, amal baik, dan doa.
Hari ini saya benar-benar memahami satu hal: tidak ada perpisahan paling menyakitkan selain ditinggal saudara kandung untuk selamanya. Namun sebagai manusia beriman, kami percaya bahwa setiap yang hidup pasti akan kembali kepada-Nya.
Kematian bukan akhir dari segalanya, melainkan awal perjalanan menuju kehidupan abadi. Selamat jalan, Kakang Dody Achmad Fadilah. Terima kasih atas semua kenangan, perhatian, nasihat, serta tausyiah-tausyiah yang setiap hari engkau bagikan kepada keluarga.
Kini semua itu menjadi pengingat indah bahwa engkau pernah hadir membawa banyak kebaikan di tengah keluarga kami. Maafkan segala kesalahan dan kekhilafan adikmu ini selama hidup bersama. Doa kami akan selalu mengiringimu.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu dan menempatkanmu di surga terbaik-Nya.
Aamiin ya rabbal alamin.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com
