Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

LRT Boleh Menunggu Tapi Tubuh Tidak Bisa Diajak Negoisasi

25 Juli 2026   08:30 Diperbarui: 25 Juli 2026   17:33 144 7 3

senam ling tien kung/dokpri
senam ling tien kung/dokpri

Kisah omjay kali ini tentang LRT Boleh Menunggu, tapi Tubuh Tidak Bisa Diajak Bernegosiasi. Semoga bermanfaat buat pembaca kompasiana tercinta.

https://youtu.be/hwpcWZVYEIQ?si=CcG1MXgPkfyn670x

Sabtu pagi ini seharusnya menjadi hari yang berbeda. Sejak semalam saya sudah membayangkan berdiri di peron LRT Dukuh Atas, bertemu teman-teman, lalu menyusuri jalur kereta tanpa masinis hingga berkesempatan melihat ruang simulator yang selama ini hanya saya lihat dari berbagai pemberitaan. 

Sebagai guru dan penulis, saya selalu percaya bahwa setiap perjalanan menyimpan cerita yang layak dibagikan.

Namun, sebelum kaki melangkah keluar rumah, tubuh saya lebih dulu mengirimkan sebuah pesan.

Ketika alat pengukur menunjukkan angka 160/100 mmHg, semua rencana yang telah tersusun rapi mendadak kehilangan prioritas. Saya terdiam beberapa saat. Dalam hati muncul pergulatan: tetap berangkat karena kesempatan ini belum tentu datang lagi, atau mengalah pada kondisi tubuh yang sedang meminta perhatian.

https://youtube.com/shorts/tuWbv_j23jw?si=KsImZuStvlNV57WV

Saya memilih pilihan kedua.

Saya mengirimkan pesan kepada panitia bahwa saya tidak dapat mengikuti kegiatan tersebut. Rasanya tentu tidak nyaman membatalkan keikutsertaan pada pagi hari. Akan tetapi, saya belajar bahwa meminta izin karena alasan kesehatan bukanlah tanda kelemahan. Justru itulah bentuk tanggung jawab kepada diri sendiri.

Keputusan itu membawa saya ke tempat yang sama sekali berbeda.

Alih-alih menuju Stasiun Dukuh Atas, langkah saya mengarah ke lapangan dekat rumah. Di sana, puluhan peserta Senam Ling Tien Kung telah berkumpul. Tidak ada suara kereta yang melaju. Yang terdengar justru tawa para peserta, sapaan hangat antartetangga, dan instruksi pelatih yang mengajak kami menggerakkan tubuh dengan perlahan.

Saat itulah saya menyadari sesuatu.

Pagi yang bermakna tidak selalu harus dihabiskan di tempat yang jauh. Kadang, pelajaran paling berharga justru hadir beberapa ratus meter dari rumah. Setiap tarikan napas terasa lebih lega. Setiap gerakan mengingatkan bahwa tubuh bukan mesin yang dapat dipaksa bekerja tanpa jeda.

Selama bertahun-tahun saya sering mengajak orang lain mengejar kesempatan. Mengikuti seminar, menghadiri pelatihan, berkunjung ke berbagai daerah, dan terus menulis tanpa henti. Semua itu tetap penting. Namun kini saya menemukan pelajaran baru: kesempatan akan terus berdatangan, sedangkan kesehatan harus dirawat setiap hari.

Saya yakin suatu saat nanti saya masih bisa mengunjungi depo LRT, menaiki kereta tanpa masinis, bahkan menuliskan pengalaman yang lebih lengkap. Hari ini bukan kehilangan kesempatan, melainkan menunda perjalanan agar saya tetap mampu menikmati perjalanan-perjalanan berikutnya.

Pengalaman pagi ini memperkaya filosofi yang selama ini saya pegang.

Satu hari, satu tulisan. Satu hari, satu suara. Satu hari, satu pengalaman.

Pengalaman itu tidak selalu lahir dari perjalanan yang spektakuler. Terkadang, pengalaman terbaik muncul ketika kita berani mengambil keputusan yang paling bijaksana, meskipun tidak sesuai dengan rencana semula.

Hari ini saya memang tidak membawa pulang foto-foto dari ruang simulator LRT. Sebagai gantinya, saya membawa pulang sebuah kesadaran baru: tidak semua kemenangan diperoleh dengan terus melangkah. Ada kalanya kemenangan justru diraih ketika kita tahu kapan harus berhenti, mendengarkan tubuh, lalu memulai kembali dengan tenaga yang lebih utuh.

Itulah cerita saya pagi ini. Bukan tentang perjalanan yang batal, melainkan tentang perjalanan pulang kepada diri sendiri.

Salam Blogger Persahabatan.

Wijaya Kusumah (Omjay) Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com


HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3