Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kisah Omjay kali ini tentang Dari Ruang Kelas SMP Labschool Jakarta di Indonesia ke Kampus China University of Mining Technology (CUMT) Tiongkok 2019. Semoga kisah nyata ini bermanfaat dan memberikan motivasi sukses untuk pembaca kompasiana tercinta, dan merasakan pindah negara sementara.
Setiap guru memiliki perjalanan belajarnya sendiri. Ada yang belajar dari pengalaman mengajar selama bertahun-tahun, ada yang memperkaya pengetahuan melalui buku dan penelitian, dan ada pula yang memperoleh pelajaran berharga dari perjalanan ke berbagai belahan dunia.
Bagi saya, kesempatan melangkahkan kaki dari ruang kelas SMP Labschool Jakarta di Indonesia menuju kampus-kampus di China merupakan pengalaman yang tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap makna pendidikan.
Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan dari satu negara ke negara lain, melainkan perjalanan intelektual yang mempertemukan semangat belajar, inovasi, dan budaya pendidikan yang berbeda. Setiap langkah yang ditempuh menjadi pengingat bahwa seorang guru sejatinya adalah pembelajar sepanjang hayat.

Perjalanan dimulai dari Indonesia dengan membawa rasa ingin tahu yang begitu besar. Selama ini saya banyak membaca tentang kemajuan pendidikan di China melalui jurnal, buku, dan berbagai laporan internasional.
Negara tersebut dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan teknologi, riset, dan inovasi pendidikan di dunia. Namun, membaca tentu sangat berbeda dengan menyaksikan secara langsung.
Saya ingin melihat bagaimana ruang kelas di China berjalan, bagaimana dosen dan mahasiswa berinteraksi, serta bagaimana budaya belajar dibangun sehingga mampu melahirkan sumber daya manusia yang unggul. Harapan itulah yang menemani setiap langkah sejak meninggalkan tanah air menuju Negeri Tirai Bambu.

Sesampainya di China, kesan pertama yang muncul adalah keteraturan. Transportasi umum berjalan dengan sangat disiplin, lingkungan kampus tertata rapi, dan setiap kegiatan berlangsung sesuai jadwal. Semua orang tampak menghargai waktu sebagai sesuatu yang sangat berharga.
Budaya tersebut tidak hanya terlihat dalam kehidupan masyarakat, tetapi juga sangat terasa di lingkungan pendidikan. Perkuliahan dimulai tepat waktu, mahasiswa datang dengan persiapan yang matang, dan setiap kegiatan akademik berlangsung secara efektif.
Dari pengalaman sederhana itu saya belajar bahwa disiplin bukan sekadar aturan, melainkan bagian dari budaya yang dibangun secara konsisten sejak usia dini.
Memasuki kampus-kampus di China memberikan pengalaman yang sulit dilupakan. Bangunan yang modern berpadu dengan ruang terbuka yang nyaman untuk belajar dan berdiskusi. Perpustakaan menjadi salah satu pusat aktivitas mahasiswa.
Ruang-ruang baca dipenuhi mahasiswa yang serius belajar, berdiskusi, maupun mengerjakan proyek penelitian. Kampus tidak hanya menjadi tempat mengikuti kuliah, tetapi juga menjadi ruang untuk bertukar ide, melakukan eksperimen, dan mengembangkan kreativitas. Suasana akademik yang begitu hidup memperlihatkan bahwa belajar tidak berhenti ketika dosen selesai menyampaikan materi di kelas.
Saya juga terkesan dengan cara dosen membangun proses pembelajaran. Perkuliahan tidak hanya berlangsung dalam bentuk ceramah satu arah. Mahasiswa didorong untuk aktif bertanya, menyampaikan pendapat, dan mengembangkan solusi terhadap berbagai persoalan nyata.
Banyak mata kuliah menggunakan pendekatan berbasis proyek sehingga mahasiswa bekerja dalam kelompok untuk menghasilkan karya atau penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Pembelajaran menjadi lebih dinamis karena mahasiswa benar-benar dilibatkan sebagai subjek utama dalam proses belajar. Dari sinilah saya memahami bahwa pendidikan tinggi harus mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Hal lain yang sangat menarik perhatian adalah hubungan erat antara kampus dengan dunia industri. Banyak laboratorium penelitian bekerja sama dengan perusahaan teknologi, lembaga pemerintah, maupun berbagai institusi internasional.
Mahasiswa memperoleh kesempatan melakukan penelitian yang langsung berkaitan dengan kebutuhan dunia kerja. Mereka tidak hanya mempelajari konsep di ruang kuliah, tetapi juga memahami bagaimana ilmu pengetahuan dapat memberikan solusi terhadap berbagai tantangan masyarakat.
Pendekatan ini membuat pendidikan terasa lebih relevan dan memberikan motivasi yang tinggi kepada mahasiswa untuk terus berinovasi dan berkreativitas. Itulah mengapa china sellau unggul dengan negara lainnya di dunia.
Selama mengikuti berbagai kegiatan akademik, saya juga melihat bagaimana teknologi telah menjadi bagian alami dari kehidupan kampus. Berbagai perangkat digital digunakan untuk mendukung pembelajaran, mulai dari papan tulis interaktif, laboratorium virtual, sistem pembelajaran daring, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dalam penelitian.
Namun, saya segera menyadari bahwa teknologi bukanlah tujuan utama. Semua perangkat tersebut digunakan untuk memperkaya pengalaman belajar, sementara hubungan antara dosen dan mahasiswa tetap menjadi inti dari proses pendidikan.
Teknologi menjadi alat untuk mempercepat pembelajaran, bukan menggantikan peran manusia dalam membimbing, menginspirasi, dan membentuk karakter.
Pengalaman yang paling berkesan justru datang dari percakapan dengan para dosen dan mahasiswa. Mereka memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi dan tidak pernah berhenti belajar.
Banyak mahasiswa yang tetap berada di perpustakaan hingga malam hari untuk menyelesaikan penelitian atau berdiskusi dengan teman-temannya.
Para dosen pun aktif mengikuti konferensi internasional, melakukan penelitian, dan mempublikasikan karya ilmiah. Budaya akademik seperti ini menunjukkan bahwa belajar bukan sekadar kewajiban untuk memperoleh nilai, melainkan kebutuhan untuk terus berkembang sebagai individu.
Sebagai seorang guru dari Indonesia, saya tidak hanya datang untuk belajar, tetapi juga membawa pengalaman dari ruang-ruang kelas di tanah air. Dalam berbagai diskusi, saya berbagi mengenai keberagaman budaya Indonesia, semangat gotong royong dalam pendidikan, serta berbagai inovasi yang telah dilakukan oleh guru-guru Indonesia di tengah berbagai keterbatasan.
Saya menyadari bahwa setiap negara memiliki keunggulan masing-masing. China memiliki sistem pendidikan yang kuat dan dukungan teknologi yang luar biasa, sementara Indonesia memiliki kekayaan budaya, kreativitas guru, serta nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi penting dalam proses pendidikan. Pertukaran pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa belajar selalu berlangsung dalam dua arah.
Di sela-sela kegiatan akademik, saya juga mengamati kehidupan mahasiswa di luar ruang kuliah. Mereka terbiasa belajar secara mandiri, memanfaatkan waktu dengan baik, dan aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi maupun penelitian.
Kampus menyediakan lingkungan yang mendorong mahasiswa untuk berkembang secara akademik maupun pribadi. Hal ini mengingatkan saya bahwa pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga individu yang mandiri, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama dengan orang lain.
Perjalanan ke kampus-kampus di China juga memberikan inspirasi tentang pentingnya budaya literasi. Perpustakaan menjadi tempat yang hidup, bukan sekadar ruang penyimpanan buku.
Mahasiswa membaca, menulis, berdiskusi, dan menghasilkan karya ilmiah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan saya bahwa budaya membaca dan menulis merupakan fondasi utama bagi lahirnya inovasi.
Sebagai seorang Guru Blogger Indonesia, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk terus menumbuhkan budaya literasi melalui tulisan, pelatihan, dan berbagai kegiatan yang mendorong guru serta peserta didik untuk gemar membaca dan menulis.
Tentu saja, saya menyadari bahwa Indonesia dan China memiliki kondisi yang berbeda. Tidak semua praktik pendidikan yang saya lihat dapat diterapkan secara langsung di Indonesia. Namun, nilai-nilai yang mendasarinya sangat relevan untuk kita pelajari.
Disiplin, budaya riset, kolaborasi, pembelajaran berbasis proyek, penghargaan terhadap profesi pendidik, serta semangat belajar sepanjang hayat merupakan prinsip-prinsip yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan di Indonesia.
Perjalanan ini mengajarkan bahwa perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan dapat dimulai dari satu ruang kelas, satu guru, dan satu langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Ketika perjalanan akademik di China berakhir, saya kembali ke Indonesia dengan membawa perspektif baru. Saya tidak hanya membawa catatan, foto, atau kenangan indah, tetapi juga membawa inspirasi untuk terus memperbaiki proses pembelajaran.
Saya semakin yakin bahwa guru harus berani membuka diri terhadap pengalaman baru, belajar dari berbagai negara, dan menyesuaikan pengetahuan tersebut dengan karakter bangsa sendiri. Pendidikan yang maju tidak lahir dari sikap merasa paling benar, tetapi dari kerendahan hati untuk terus belajar.
Perjalanan dari ruang kelas Indonesia ke kampus China akhirnya menjadi perjalanan yang menghubungkan dua dunia pendidikan dengan karakter yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu menciptakan generasi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan. Dari Indonesia saya membawa semangat pengabdian, gotong royong, dan keberagaman budaya.
Dari China saya membawa inspirasi tentang disiplin, inovasi, budaya riset, dan pembelajaran yang berorientasi pada masa depan. Ketika kedua pengalaman tersebut dipadukan, saya semakin percaya bahwa masa depan pendidikan Indonesia akan semakin cerah apabila setiap guru terus belajar, terus berbagi, dan tidak pernah berhenti mengembangkan diri. Sebab, perjalanan seorang guru sejatinya tidak pernah berakhir; setiap langkah menuju ilmu adalah langkah menuju masa depan yang lebih baik bagi bangsa.
Hal yang paling menarik selama 21 hari belajar STEAM di China bukan hanya teknologinya, tetapi juga cara berpikir (mindset) pendidikan. Berikut beberapa hal yang dapat menjadi refleksi Omjay.
1. Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning)
Siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi langsung membuat karya. Mereka merancang robot sederhana, memecahkan masalah lingkungan, hingga menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Belajar menjadi pengalaman nyata, bukan sekadar menghafal.
2. Integrasi STEAM yang Sesungguhnya
Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics tidak diajarkan secara terpisah. Semua mata pelajaran saling terhubung dalam satu proyek sehingga siswa terbiasa berpikir lintas disiplin.
3. Guru Berperan sebagai Fasilitator
Guru tidak mendominasi kelas. Mereka lebih banyak membimbing, memberikan pertanyaan pemantik, dan mendampingi siswa menemukan jawaban sendiri. Hal ini membangun rasa percaya diri dan kreativitas peserta didik.
4. Budaya Bertanya dan Berdiskusi
Siswa terbiasa mengemukakan pendapat, bertanya, bahkan berbeda pandangan dengan guru secara santun. Kelas menjadi ruang dialog, bukan hanya tempat menerima materi.
5. Pemanfaatan Teknologi Secara Bermakna
Artificial Intelligence, papan tulis digital, laboratorium virtual, hingga robotika digunakan untuk memperdalam pemahaman siswa, bukan sekadar menunjukkan kecanggihan teknologi.
6. Disiplin yang Menjadi Budaya
Ketepatan waktu, tanggung jawab, dan kemandirian terlihat di kampus maupun sekolah. Disiplin bukan karena takut dihukum, melainkan telah menjadi kebiasaan sehari-hari.
7. Budaya Riset Sejak Dini
Mahasiswa dan siswa dibiasakan mengamati masalah, mengumpulkan data, melakukan eksperimen, lalu mempresentasikan hasilnya. Mereka belajar menjadi peneliti sejak masih di bangku sekolah.
8. Kolaborasi Lebih Penting daripada Kompetisi
Banyak tugas dikerjakan secara kelompok. Setiap anggota memiliki peran sehingga siswa belajar menghargai pendapat orang lain dan menyelesaikan masalah bersama.
9. Literasi Menjadi Gaya Hidup
Perpustakaan selalu ramai. Membaca dan menulis bukan sekadar tugas sekolah, tetapi sudah menjadi budaya masyarakat. Hal ini tentu sangat menginspirasi Omjay sebagai Guru Blogger Indonesia.
10. Pendidikan Berorientasi Masa Depan
Semua pembelajaran diarahkan untuk menjawab tantangan dunia nyata, seperti kecerdasan buatan, energi terbarukan, teknologi hijau, dan inovasi industri.

Refleksi Omjay
Bagi Omjay, pelajaran terbesar dari 21 hari di China bukanlah melihat gedung-gedung megah atau teknologi yang canggih. Yang paling berkesan adalah budaya belajar yang kuat. Guru tidak pernah berhenti belajar, siswa berani mencoba, kampus mendorong riset dan inovasi, sementara masyarakat menghargai pendidikan sebagai investasi masa depan.
Baca juga: https://wijayalabs.com/2019/03/04/hari-pertama-belajar-di-negara-china/
Dari perjalanan itu, Omjay membawa pulang sebuah keyakinan bahwa Indonesia tidak harus meniru China secara utuh, tetapi dapat mengadopsi nilai-nilai terbaiknya: semangat belajar sepanjang hayat, budaya kolaborasi, literasi yang kuat, pembelajaran berbasis proyek, serta pemanfaatan teknologi untuk membentuk generasi yang kreatif, inovatif, dan berkarakter.
Seperti apa yang sering disampaikan Omjay di blog, "Perjalanan ke China bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menguatkan keyakinan bahwa guru yang terus belajar akan mampu melahirkan generasi yang siap membangun masa depan Indonesia."
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia
