Jangan sampai niat menyuburkan tanaman justru membuat tanaman terganggu karena menggunakan cairan yang belum matang atau terlalu pekat.
Karena itu, membuat komposter juga menjadi proses belajar. Kita mengamati, mencoba, mencium aromanya, melihat perubahan bahan organik, dan memahami proses penguraian.
Dari kegiatan sederhana tersebut, kita bisa belajar tentang lingkungan sekaligus berkebun.
Dari Barang Bekas Menjadi Kebiasaan Baik
Menurut saya, hal paling menarik dari galon bekas bukan bentuknya, melainkan kesempatan yang diberikan kepada kita untuk berpikir kreatif.
Barang yang tadinya dianggap limbah ternyata masih bisa mempunyai fungsi baru.
Bayangkan kalau satu rumah memiliki satu komposter sederhana. Sampah organik dari dapur bisa dipilah dan diolah. Jika kebiasaan ini dilakukan bersama-sama, tentu akan lebih banyak sampah organik yang tidak langsung bercampur dengan sampah lainnya.
Memang, satu komposter galon bekas tidak akan menyelesaikan persoalan sampah secara keseluruhan.
Tetapi bukankah perubahan besar memang sering dimulai dari sesuatu yang kecil?
Dari dapur kita belajar memilah. Dari galon bekas kita belajar menggunakan kembali. Dari komposter kita belajar mengolah. Dan dari pupuk organik, kita kembali memberi kehidupan kepada tanah dan tanaman.
Jadi, sebelum galon bekas kita buang begitu saja, mungkin ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya: "Barang ini masih bisa saya sulap menjadi apa?"