Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Judul kisah Omjay kali ini adalah Rutinitas Olahragaku Selama Puasa. Omjay Menjaga Tubuh Tetap Bugar, Ibadah Makin Segar walaupun sedang berpuasa di bulan Ramadhan.
Bulan suci Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Ritme hidup berubah. Waktu makan bergeser. Jam tidur pun sering kali berkurang. Namun satu hal yang tidak boleh berubah adalah semangat menjaga kesehatan. Sebab, tubuh yang sehat akan membuat ibadah semakin khusyuk dan aktivitas tetap produktif.
Bagi saya, puasa bukan alasan untuk berhenti berolahraga. Justru di bulan inilah saya belajar tentang keseimbangan: antara ibadah dan kesehatan, antara istirahat dan aktivitas, antara menahan diri dan tetap bergerak.

Olahraga Bukan Sekadar Keringat
Puasa mengajarkan kita menahan lapar dan dahaga. Namun bukan berarti tubuh harus dibiarkan lemah tanpa gerak. Saya menyadari bahwa olahraga saat puasa bukan tentang mengejar target fisik atau membakar kalori sebanyak-banyaknya. Ini tentang menjaga stamina agar tetap prima menjalani ibadah dan pekerjaan.
Saya memilih olahraga ringan hingga sedang, seperti:
Semua dilakukan dengan prinsip: tidak berlebihan. Lakukan sesuai kemampuan dan kondisi kesehatan masing-masing.
Waktu Terbaik Versiku
Dari pengalaman beberapa tahun menjalani puasa, saya menemukan dua waktu terbaik untuk berolahraga:
1. Menjelang Berbuka (30 sampai 45 menit sebelum Maghrib)
Ini adalah waktu favorit saya. Energi memang sudah menurun, tetapi justru di sinilah latihan mental terbentuk. Jalan kaki ringan di sekitar rumah sambil menunggu adzan Maghrib terasa menenangkan. Ketika keringat mulai keluar dan adzan berkumandang, sensasi berbuka menjadi jauh lebih nikmat.
2. Setelah Tarawih
Jika tubuh masih cukup bertenaga, saya melakukan latihan ringan setelah shalat Tarawih. Tidak lama, hanya sekitar 20 sampai 30 menit. Fokusnya pada peregangan, plank, push-up ringan, dan gerakan tubuh sederhana agar otot tetap aktif.
Saya menghindari olahraga berat di siang hari karena risiko dehidrasi cukup tinggi.
Menjaga Niat dan Konsistensi
Olahraga selama puasa bukan sekadar aktivitas fisik. Ini adalah latihan kedisiplinan. Ketika rasa malas datang, saya mengingat kembali tujuan: menjaga amanah tubuh yang Allah titipkan.
Tubuh adalah kendaraan ibadah. Jika ia lemah, ibadah pun terasa berat. Maka merawatnya adalah bagian dari syukur.
Saya belajar untuk tidak memaksakan diri. Jika tubuh terasa sangat lelah, saya memilih istirahat. Puasa bukan ajang pembuktian kekuatan fisik, melainkan pengendalian diri.
Pola Makan dan Hidrasi
Rutinitas olahraga selama puasa tentu harus diimbangi dengan pola makan yang tepat.
Saat sahur, saya mengutamakan:
Saat berbuka, saya tidak langsung makan berat. Dimulai dengan air putih dan kurma, lalu jeda shalat Maghrib, baru makan secukupnya. Prinsipnya: tidak berlebihan.
Air putih menjadi kunci utama. Saya membagi waktu minum dari berbuka hingga sahur agar kebutuhan cairan terpenuhi.
Tantangan Terbesar: Rasa Malas
Jujur saja, tantangan terbesar bukanlah rasa lapar. Tapi rasa malas. Rasanya malas untuk berolahraga dan Omjay harus mampu melawan diri sendiri.
Kadang muncul bisikan:
"Sudahlah, puasa kok olahraga."
Namun justru di sinilah nilai perjuangannya. Saya percaya bahwa konsistensi kecil yang dilakukan setiap hari jauh lebih bermakna daripada semangat besar yang hanya muncul sesaat.
Ramadhan mengajarkan istiqamah. Dan olahraga adalah salah satu bentuk latihan istiqamah itu.
Manfaat yang Saya Rasakan
Selama menjaga rutinitas olahraga di bulan puasa, saya merasakan:
Olahraga ringan ternyata membantu menjaga keseimbangan hormon dan energi. Bahkan saya merasa ibadah menjadi lebih fokus karena tubuh tidak terlalu lesu.
Puasa dan Gaya Hidup Sehat
Bulan Ramadhan seharusnya menjadi momentum memperbaiki pola hidup. Bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi juga pengelolaan diri secara menyeluruh.
Puasa melatih kita mengatur waktu makan. Olahraga melatih kita mengatur energi. Jika keduanya berjalan seimbang, maka Ramadhan bukan hanya bulan penuh pahala, tetapi juga bulan penuh perbaikan diri.
Pesan untuk Pembaca Kompasiana
Bagi sahabat Kompasiana yang masih ragu untuk berolahraga saat puasa, cobalah mulai dari yang sederhana. Tidak perlu berat. Tidak perlu lama. Cukup 20 sampai 30 menit aktivitas ringan setiap hari.
Ingat, tujuan kita bukan menjadi atlet, tetapi menjadi pribadi yang sehat lahir batin.
Ramadhan adalah madrasah kehidupan. Di dalamnya kita belajar sabar, disiplin, dan menjaga amanah tubuh. Jangan jadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Justru jadikan ia sebagai momen membangun kebiasaan baik.
Karena ketika Ramadhan berakhir, yang tersisa bukan hanya kenangan berbuka dan sahur, tetapi juga kebiasaan-kebiasaan baik yang berhasil kita tanamkan.
Dan bagi saya, salah satu kebiasaan baik itu adalah: tetap bergerak, tetap sehat, tetap semangat beribadah.
Semoga Ramadhan tahun ini bukan hanya menguatkan iman kita, tetapi juga menyehatkan raga kita. Aamiin.
Selamat berpuasa. Tetap aktif. Tetap produktif. Dan tetap bahagia. Kebahagiaan itu harus diraih dan modal utamanya adalah kesehatan.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia
