Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Kisah Omjay: Langkah Ke Masjid Yang Mengubah Segalanya

13 Juli 2026   04:04 Diperbarui: 13 Juli 2026   09:35 211 6 1

Omjay dan kang Asep Surya/dokpri
Omjay dan kang Asep Surya/dokpri

Kisah Omjay kali ini tentang Langkah ke Masjid yang Mengubah Segalanya. Semoga bermanfaat buat pembaca Kompasiana.

Saat itu suara adzan Subuh dari masjid al maidah ujung kampung Jatibening menembus jendela rumah tembok Omjay. Udara Bekasi masih dingin, embun masih menempel di daun jambu depan rumah.

Omjay duduk di tepi ranjang. Usia Omjay sekarang sudah 55 tahun. Rambut Omjay sudah mulai memutih, punggungnya juga sering pegal karena dulu pernah kerja di proyek bangunan sebelum akhirnya jadi guru. Dulu, waktu masih muda, Omjay sering berpikir: "Shalat mah nanti aja. Yang penting kerja dulu. Di rumah juga bisa."

Pikiran itu lalu berubah setelah suatu malam di bulan puasa. Malam itu Omjay begadang nonton bola piala dunia. Jam 3 pagi Omjay tertidur di sofa.

Tiba-tiba Omjay bermimpi didatangi seseorang berpakaian putih. Wajahnya teduh, tapi suaranya berat. "Waktumu mati tidak kamu tahu kapan. Jaga yang lima itu." 

Omjay terbangun dengan jantung berdebar. Keringat dingin keluar dari tubuh. Sejak itu kalimat itu tidak pernah hilang dari kepalanya: manusia tidak tahu kapan Malaikat maut menghampiri kita.

Keesokan harinya Omjay ke masjid Al Maidah. Bukan karena disuruh siapa-siapa. Tapi karena takut. Takut kalau dipanggil dalam keadaan lalai.

https://youtu.be/gCECXnkiWKc?si=7Ja2h8b0sBCoiChV

Awal yang berat

Jujur saja, awal-awal itu berat. Bangun Subuh rasanya seperti perang dengan selimut. Jalan ke masjid 300 meter itu terasa jauh. Lutut Omjay bunyi kriet-kriet. Tetangga sering meledek, "Lho Pak Jay, kok rajin banget sekarang?"

Omjay cuma senyum. Di dalam hati Omjay ingat pesan yang sering Omjay baca di kitab suci: satu langkah ke masjid itu nilainya besar. Satu langkah, ditulis satu pahala. Satu langkah, dihapus satu dosa. Satu langkah, dinaikkan satu derajat di surga.

Kalau dipikir pakai logika, rugi rasanya kalau tidak diambil. Masa iya jalan 200 langkah ke masjid, berarti 200 pahala, 200 dosa dihapus, 200 derajat naik. Itu baru jalan berangkat. Pulangnya sama lagi.

"Ya Allah penguasa bumi, terima langkah ini," gumam Omjay tiap melangkahkan kaki.

Pelajaran dari shaf sholat

Sebulan berjalan, Omjay mulai kenal jamaah. Ada Kang Asep pedagang kue kering. Ada Pak Udin tukang sayur, ada Mas Arif mahasiswa, ada Kakek Rohim yang jalannya dipapah dua anaknya.

Kakek Rohim ini yang paling bikin Omjay malu. Usianya sudah 82 tahun. Penglihatannya kabur. Tiap waktu shalat, dua cucunya selalu menjemput. Dipapah pelan-pelan, didudukkan di shaf paling depan.

Suatu Maghrib Omjay memberanikan diri bertanya, "Kek, capek nggak jalan sejauh ini?"

Kakek Rohim tertawa kecil. "Capek nak. Tapi aku ingat haditsnya. Nabi Muhammad SAW bilang, orang yang berwudhu dengan sebaik-baiknya lalu pergi ke masjid, tiap langkahnya dapat pahala, diangkat derajatnya, dihapus dosanya. Kalau aku bisa jalan sendiri, aku jalan. Ini karena sudah tidak kuat, ya dipapah. Pahalanya tetap jalan, insyaAllah."

Malam itu Omjay pulang sambil menunduk. Saya yang masih kuat, masih bisa jalan sendiri, masih sering nunda-nunda. Malu. Sungguh saya malu.

Pahala 25 sampai 27 kali lipat

Di masjid Omjay juga belajar lagi tentang nilai shalat berjamaah. Ustadz pernah ceramah: shalat sendirian di rumah itu sah. Tapi shalat berjamaah pahalanya 25 sampai 27 kali lipat.

Omjay menghitung pakai jari. Kalau shalat Dzuhur di rumah dapat 1, di masjid bisa dapat 27. Sehari semalam 5 waktu. Kalau semua berjamaah, berarti sempurna. Sempurna bukan karena bacaannya paling bagus. Tapi karena usaha datangnya, karena berjamaahnya.

"Berarti selama ini saya banyak buang pahala," pikir Omjay.

Sejak itu Omjay pasang alarm 10 menit sebelum adzan. Ambil wudhu di rumah, biar tenang. Jalan pelan ke masjid. Tidak lari. Karena tiap langkah itu hitungan.

Hadits yang menampar

Suatu Jumat, khatib membacakan hadits riwayat Abdullah bin Mas'ud. Hadits yang sama yang Omjay pernah baca di selebaran:

"Siapa yang ingin bertemu dengan Allah kelak sebagai seorang muslim yang sempurna, maka hendaknya dia selalu shalat berjamaah setiap mendengar adzan. Karena Allah telah mengukuhkan hukum-hukum agama kepada Nabi-Nya, diantaranya ialah shalat berjamaah itu. Andaikata kalian shalat sendirian di rumah tidak datang ke masjid seperti halnya orang-orang yang tidak datang ini, berarti kalian meninggalkan sunnah nabi. Apabila kalian meninggalkan sunnah nabi berarti kalian sesat."

Omjay terdiam. Kata "sesat" itu berat. Dia pulang tidak langsung masuk rumah. Duduk dulu di teras.

Omjay ingat sekali 25 tahun lalu. Waktu anak pertamanya lahir, dia sibuk kerja. Adzan Dzuhur lewat. Adzan Ashar lewat. "Nanti dijamak," katanya. Tapi tidak pernah dijamak.

Omjay ingat juga temannya, Pak Slamet. Sehat, kuat, rumahnya 2 gang dari masjid. Tapi tiap ditanya kok tidak ke masjid, jawabnya: "Di rumah aja, sama aja." Sekarang Pak Slamet sudah meninggal 2 tahun lalu. Meninggal di rumah, pas siang, tidak sempat shalat.

Omjay menarik napas. "Ya Allah penguasa bumi, jangan jadikan aku termasuk manusia yang lalai."

Mengajak, bukan memaksa

Setelah istiqamah, Omjay tidak jadi ustadz. Omjay adalah tetap Omjay yang suka bercanda. Tapi Omjay mulai mengajak orang lain.

Ke anaknya, "Nak, temenin bapak ke masjid yuk. Sekali aja."
Ke tetangga sebelah, "Bang, udah adzan. Bareng?"
Ke tukang ojek pangkalan, "Mari Pak, kita kejar pahala 27 kali lipat."

Ada yang ikut. Ada yang nolak halus. Omjay tidak pernah maksa. Dia ingat, hidayah itu urusan Allah. Tugasnya cuma menyampaikan dan mencontohkan.

Istri Omjay, Bu Siti, awalnya heran. "Kok ayah sekarang paling depan terus kalau shalat?"
Lalu Omjay jawab, "Biar kalau dipanggil, kita lagi dalam keadaan terbaik. Lagi sujud."

Bu Siti akhirnya ikut. Sekarang tiap Maghrib mereka berangkat bareng. Anak-anak juga. Rumah jadi lebih tenang. Kami merasa semakin dekat dengan Allah SWT.


Bonus yang tidak terlihat

Sudah 5 tahun Omjay rutin sholat berjamaah. Apa yang Omjay dapat?

Bukan uang. Bukan rumah baru. Tapi hati ini jauh lebih tenang. Tidur jauh lebih nyenyak. Hubungan Omjay dengan anak-anak lebih dekat karena sering ketemu di masjid. Dan yang paling penting, rasa takut akan "terlambat" itu hilang. Berganti jadi rasa siap.

Suatu hari hujan besar turun di Jatibening. Air selutut. Omjay tetap berangkat sholat Isya. Basah kuyup. Sampai masjid, Pak Udin bilang, "Gila Pak Jay, hujan gini maksa."

Omjay tertawa. "Ingat Kek Rohim, Pak. Dia dipapah aja mau. Masa saya yang masih kuat ngeluh hujan."

Malam itu Omjay pulang dengan satu keyakinan: Allah tidak akan menyia-nyiakan satu langkah pun.

Penutup untuk kita semua

Kisah Omjay ini bukan kisah orang alim. Omjay orang biasa. Punya salah, punya rasa malas, punya masa lalu yang bolong-bolong dalam melaksanakan sholat 5 waktu.

Tapi Omjay memilih mulai. Memilih menjaga shalat fardu lima waktu dengan berjamaah. Karena Omjay sadar satu hal: kita tidak pernah tahu kapan lembaran hidup ditutup.

Rasulullah SAW sudah mengingatkan lewat hadits riwayat Muslim. Shalat berjamaah itu bagian dari syariat. Meninggalkannya tanpa uzur itu kerugian besar. Datang ke masjid itu bukan beban. Itu investasi. Satu langkah = pahala. Satu langkah = penghapus dosa. Satu langkah = kenaikan derajat.

Buat para orang tua seperti Omjay, ini penting sekali. Kita yang sudah makan asam garam kehidupan, yang sudah lihat banyak orang pergi, harus jadi contoh. Jadi teladan. Anak cucu lihat. Tetangga lihat.

Kalau kita saja masih menunda, siapa lagi?

Mari kita mulai malam ini. Dengar adzan, ambil wudhu, langkahkan kaki. Tidak harus langsung 5 waktu sempurna. Mulai dari 1 waktu. Lalu 2. Sampai akhirnya lengkap.

Mati itu pasti. Karena pada akhirnya, yang kita bawa pulang bukan rumah, bukan jabatan, bukan harta. Yang kita bawa adalah shalat kita. Amal ibadah kita.

Allahumma sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad. Ya Allah, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad SAW.

Semoga langkah kita ke masjid hari ini, menjadi saksi di hadapan Allah SWT nanti. Aamiin. YA ROBBAL ALAMIN.

Salam blogger persahabatan 

Omjay/Kakek Jay

Guru blogger Indonesia 

Blog https://wijayalabs.com

Omjay guru blogger Indonesia/dokpri
Omjay guru blogger Indonesia/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6