GILANG BUDI PERKASA
GILANG BUDI PERKASA Wiraswasta

Founder INF Creative, perusahaan penyedia layanan animasi, motion graphic, dan konten edukasi untuk perusahaan, institusi, maupun brand. Memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun dan telah mengerjakan lebih dari 1000 video. https://infcreative.com/

Selanjutnya

Tutup

Video

Memilih Style Video AI untuk Kebutuhan HR, Procurement, dan Marketing

28 September 2026   17:36 Diperbarui: 28 September 2026   17:36 97 1 0

Ilustrasi AI berupa tim HR, procurement, dan marketing yang sedang meninjau konsep video AI bersama
Ilustrasi AI berupa tim HR, procurement, dan marketing yang sedang meninjau konsep video AI bersama

Style Video AI

"Kami butuh video yang menarik, cepat selesai, dan anggarannya masuk."

Kalimat seperti ini terdengar sederhana. Namun, bagi tim yang mengerjakannya, kata "menarik" bisa memiliki arti yang berbeda-beda.

HR membutuhkan materi yang mudah dipahami karyawan. Marketing ingin pesan yang membuat calon pelanggan tertarik. Sementara procurement perlu memastikan biaya, ruang lingkup, dan hasil pekerjaan sesuai kesepakatan.

Belakangan, ada satu tambahan dalam pembicaraan tersebut: "Bisa dibuat pakai AI?"

Sebagai founder perusahaan penyedia layanan animasi, motion graphic, dan konten edukasi untuk perusahaan, institusi, maupun brand, saya melihat pertanyaan ini sebagai kesempatan untuk membahas kebutuhan dengan lebih jelas.

Berbekal pengalaman lebih dari 10 tahun dan lebih dari 1.000 video yang telah dikerjakan bersama tim, saya menilai bahwa pilihan teknologi perlu mengikuti tujuan komunikasi. Sebelum menentukan bagaimana video dibuat, kita perlu tahu siapa yang akan menonton dan apa yang perlu mereka pahami.

Setiap Divisi Membawa Kebutuhan Video yang Berbeda

Ambil contoh video tentang prosedur kerja baru.

Bagi HR, keberhasilannya terletak pada pemahaman karyawan. Apakah setelah menonton mereka tahu langkah yang harus dilakukan?

Marketing mungkin memiliki kebutuhan lain, seperti memperkenalkan layanan yang belum dikenal pasar. Videonya perlu memberi alasan mengapa layanan tersebut relevan bagi calon pelanggan.

Di sisi procurement, kedua kebutuhan tadi harus diterjemahkan menjadi brief yang cukup jelas untuk meminta dan membandingkan penawaran.

Saya merasa tahap inilah yang perlu mendapat perhatian lebih. Istilah "video AI berdurasi satu menit" belum cukup menjelaskan pekerjaan yang dibutuhkan. Apakah isinya presenter virtual, animasi diagram, atau visual produk yang harus akurat sampai detail komponennya?

Berikut beberapa pendekatan style video ai yang bisa menjadi bahan pertimbangan.

1. Presenter Virtual: untuk Penjelasan yang Langsung

Presenter virtual menampilkan sosok digital yang membawakan narasi. Format ini bisa dipertimbangkan untuk pengantar pelatihan, orientasi karyawan, atau penjelasan layanan.

Daya tariknya adalah kemudahan memperbarui narasi tanpa selalu mengadakan pengambilan gambar baru.

Namun, saya akan tetap mempertimbangkan panjang materi dan pengalaman menontonnya. Jika seorang presenter hanya membacakan naskah panjang, penonton tetap bisa kehilangan perhatian.

Untuk kebutuhan HR, misalnya, penjelasan akan lebih konkret jika disertai contoh kasus atau tampilan aplikasi yang digunakan karyawan. Pelafalan istilah internal juga perlu diperiksa.

Bagi procurement, pastikan hak penggunaan avatar dan suara, jumlah revisi, serta biaya pembaruan materi sudah jelas sejak awal.

2. Motion Graphics: untuk Alur, Data, dan Konsep

Tidak semua informasi mudah ditunjukkan melalui rekaman kamera. Alur persetujuan dokumen, cara kerja layanan digital, atau hubungan antarbagian dalam sebuah sistem adalah beberapa contohnya.

Motion graphics membantu menyusun informasi tersebut melalui teks, ikon, diagram, dan gerakan.

Untuk HR, format ini bisa digunakan dalam penjelasan prosedur. Untuk marketing, penggunaannya bisa berupa pengenalan manfaat produk atau layanan yang cukup kompleks.

Dalam menilai pendekatan ini, perhatian saya ada pada urutan informasi. Apa yang perlu dipahami terlebih dahulu? Bagian mana yang perlu diberi contoh? Apa yang sebenarnya bisa dihapus dari naskah?

AI dapat membantu sebagian proses produksi, tetapi keputusan tersebut tetap membutuhkan pertimbangan manusia.

Procurement juga perlu memastikan apakah penawaran mencakup desain khusus, penggunaan template, dan penyerahan file sumber. Detail ini akan terasa manfaatnya saat perusahaan membutuhkan pembaruan.

3. Animasi Ilustratif: untuk Menjelaskan Situasi

Ada materi yang lebih mudah dipahami ketika disampaikan melalui cerita singkat.

Misalnya, daripada hanya menampilkan daftar aturan keamanan informasi, video bisa memperlihatkan seorang karyawan yang menerima email mencurigakan. Dari situ, penonton diajak memahami tindakan yang perlu dilakukan.

Animasi ilustratif, termasuk gaya whiteboard, bisa digunakan untuk pendekatan seperti ini.

Saya melihat format ini sebagai pilihan yang layak dipertimbangkan untuk materi etika kerja, pelayanan pelanggan, dan pengenalan kebijakan. Marketing juga bisa menggunakannya untuk menggambarkan masalah yang dihadapi pelanggan.

Khusus materi keselamatan kerja atau prosedur teknis, pemeriksaan oleh tim yang memahami substansi perlu masuk ke dalam jadwal produksi. Ilustrasi alat, posisi tubuh, dan urutan tindakan harus sesuai dengan prosedur yang dijelaskan.

4. Visual Sinematik AI: untuk Suasana dan Gagasan

Marketing terkadang membutuhkan visual yang menggambarkan aspirasi, suasana, atau gagasan yang belum bisa direkam secara langsung.

Visual generatif dapat menjadi pilihan untuk mengeksplorasi kebutuhan tersebut. Misalnya, gambaran konseptual tentang masa depan atau adegan imajinatif untuk sebuah kampanye.

Namun, saya akan berhati-hati ketika pendekatan ini digunakan dalam video profil perusahaan.

Penonton bisa menganggap gedung, pabrik, atau aktivitas yang ditampilkan sebagai dokumentasi nyata. Jika tujuannya memperlihatkan fasilitas dan kemampuan perusahaan, rekaman asli tetap memiliki peran penting.

Karena itu, penggunaan visual AI perlu dibicarakan sejak penyusunan konsep. Marketing perlu menilai kesesuaiannya dengan pesan merek, sedangkan procurement perlu memperjelas ketentuan penggunaan aset dalam kesepakatan kerja.

5. Visualisasi 3D: untuk Bentuk dan Mekanisme

Untuk produk atau proses tertentu, penonton perlu melihat sesuatu yang tidak mudah ditangkap kamera: bagian dalam mesin, susunan komponen, atau rancangan ruang.

Visualisasi 3D dapat membantu menjelaskannya, dengan AI digunakan untuk mendukung tahapan produksi tertentu.

Hal yang menjadi perhatian saya adalah tingkat akurasi yang dibutuhkan. Visual untuk membangun suasana tentu berbeda dengan visual untuk menjelaskan mekanisme produk.

Jika ketepatan teknis menjadi prioritas, tim produksi membutuhkan bahan acuan yang memadai dan pemeriksaan dari pihak yang memahami produknya.

Dalam penawaran, procurement perlu membedakan pekerjaan pembuatan model, animasi, dan rendering. Jika perusahaan sudah memiliki model 3D, sampaikan sejak awal agar vendor dapat menilai apakah aset tersebut bisa digunakan.

Biaya Pembaruan Juga Perlu Dibicarakan

Dari sudut pandang penyedia layanan, saya menganggap pertanyaan "Apakah materi ini akan sering berubah?" sama pentingnya dengan pertanyaan tentang durasi.

Modul orientasi karyawan mungkin perlu diperbarui ketika ada perubahan kebijakan. Video produk bisa membutuhkan penyesuaian fitur. Materi kampanye mungkin perlu dibuat dalam beberapa versi untuk saluran yang berbeda.

Karena itu, harga produksi awal sebaiknya dilihat bersama kebutuhan penggunaannya.

Apakah perusahaan membutuhkan versi vertikal? Apakah akan ada perubahan bahasa? Siapa yang menyimpan file kerja? Berapa biaya untuk mengganti satu bagian narasi?

Membicarakan hal-hal tersebut sejak awal membantu tim internal menyusun anggaran dan membantu vendor menawarkan ruang lingkup yang sesuai.

AI Tidak Menghilangkan Kebutuhan akan Brief yang Jelas

Saya memahami mengapa perusahaan tertarik pada kemungkinan produksi yang lebih cepat. Namun, penggunaan AI tetap membutuhkan naskah yang tepat, bahan yang benar, serta proses persetujuan yang tertata.

Jika tujuan video belum disepakati, teknologi tidak akan menyelesaikan kebingungan tersebut. Tim produksi bisa menghasilkan visual dengan cepat, tetapi hasilnya masih harus dirombak karena pesan yang diinginkan ternyata berbeda.

Saran saya, mulailah dari satu kebutuhan yang spesifik.

Untuk HR, pilih satu materi yang paling sering menimbulkan pertanyaan. Untuk marketing, tentukan satu pesan utama yang ingin diingat calon pelanggan. Procurement kemudian dapat membantu memastikan kebutuhan itu diterjemahkan menjadi pekerjaan dan hasil akhir yang jelas.

Setelah video digunakan, evaluasi responsnya. Apakah karyawan lebih memahami langkah kerja? Apakah calon pelanggan lebih mudah mengerti manfaat layanan? Apakah pembaruan materi bisa dilakukan tanpa proses yang menyulitkan?

Sebagai orang yang bekerja di bidang produksi visual, saya tentu menyukai hasil yang enak dilihat. Namun, kepuasan yang lebih besar ada ketika video tersebut benar-benar membantu pekerjaan orang yang menggunakannya. Itulah ukuran yang ingin saya bawa saat membicarakan video AI untuk perusahaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6