Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Menjelang ashar, Aku membuka YouTube mencari kisah-kisah Islami yang inspiratif tentang keteladanan Rasulullah, para sahabat, dan para imam pemimpin madzab dalam Islam.
Kisah yang bagus dan menginspirasi banyak kutemukan, tapi ada satu kisah yang menarik dan baru Aku tahu, jadi segera kutonton dan kuresapi.
Sangat menarik dan menginspirasi tentang pentingnya ilmu, seperti yang bapak selalu tanamkan pada kami, menyekolahkan kami sampai kuliah, meski untuk itu harus bersusah payah.
Prinsip itu yang Bapak pegang sampai kami semua anaknya bisa mengenyam bangku kuliah meski kami bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan, tapi pendidikan sangat diutamakan. Ilmu membuat orang kayaunt pengetahuan dan berkecukupan, bukan harta tapi wawasan dan kebijaksanaan.
Kisah Imam Syafi'i berawal saat beliau menuntut ilmu pada gurunya. Tapi gurunya berkata," Wahai Syafi'i, pergilah ke Madinah untuk menuntut ilmu lebih banyak lagi, karena sesungguhnya ilmuku sudah habis, semua sudah kuajarkan kepadamu!"

Imam Syafi'i pun mematuhi perintah gurunya. Imam Syafi'i segera minta ijin pada Ibundanya. Ibundanya pun mengijinkan, jadi berangkat lah Imam Syafi'i ke Madinah dengan menunggang unta.
Di sana, Imam Syafi'i berguru pada Imam Malik, seorang ulama besar di Madinah. Imam Syafi'i menjadi murid kesayangannya Imam Malik karena kecerdasannya.

Setelah selesai berguru pada Imam Malik, Imam Syafi'i melanjutkan perjalanan nya ke Irak bersama dengan murid-murid Imam Abu Hanifah.
Di Irak, Imam Syafi'i menjadi murid yang unggul, sehingga kepintarannya tersebar ke seluruh penjuru negeri. Dalam waktu singkat, Imam Syafi'i mendapat mandat untuk mengajar hingga akhirnya beliau menjadi ulama besar di penjuru Hijaz dan Irak.

Pada suatu saat, ibunda Imam Syafi'i menunaikan ibadah haji dan mendengarkan pengajian di Masjidil Haram yang dipimpin seorang ulama besar dari Irak.
Dalam pengajian itu sering disebut nama ulama besar Muhammad bin Idris As Syafi 'i yang membuat Ibundanya penasaran, apakah yang disebut-sebut itu adalah putranya?
Lalu beliau bertanya pada ulama di majelis tersebut.
"Wahai Syaikh, siapakah Dia Muhammad bin Idris as Syafi'i itu?"
"Dia adalah guruku, seorang ulama besar di Irak, yang berasal dari Mekah."
"Sesungguhnya Muhammad bin Idris as Syafi'i itu adalah putraku!"
Ulama itupun langsung tunduk hormat pada Ibunda guru nya. Rupanya ulama itu sedang berhaji dan akan kembali ke Irak
Ibunda Imam Syafi'i pun menitip pesan untuk Imam Syafi'i. " Katakan pada putraku, jika dia ingin pulang ke Mekah, maka pulanglah!"
Sesampai di Mekah, ulama itupun menyampaikan pesan Ibunda kepada Imam Syafi'i yang membuat kerinduannya tak tertahan pada Ibundanya. Maka Imam Syafi'i pun bersiap pulang ke kampung halamannya.
Imam Syafi'i mendapat bekal berlimpah berupa makanan, harta dan ratusan onta. Kepulangan nya dikawal murid-murid nya seperti rombongan raja yang akan berkunjung ke suatu tempat.

Saat sudah sampai di perbatasan Mekah, Imam Syafi'i mengutus salah satu muridnya untuk memberi tahu Ibunda nya, bahwa beliau akan segera tiba. Sang muridpun bergegas menemui Ibunda Imam Syafi'i dan menyampaikan pesannya.
Ibundanya pun bertanya," Apa saja yang ia bawa?"
" Imam Syafi'i datang dengan ratusan unta dan harta yang berlimpah," jawab muridnya.
Mendengar jawaban itu Ibunda justru marah dan menyatakan dengan tegas, " Aku menyuruh nya berkelana bukan untuk mencari dunia. Dia tidak boleh pulang ke rumah!"
Muridnya pun menyampaikan pesan Ibundanya pada Imam Syafi'i dengan hati cemas, tapi Imam Syafi'i yang memahami Ibu, paham apa yang diinginkan Ibundanya. Beliau segera membagikan harta dan untanya kepada penduduk Mekah dan hanya menyisakan kitab-kitab miliknya.

Kemudian Imam Syafi'i kembali mengutus muridnya untuk menemui Ibunya dan mengabarkan bahwa dia telah membagikan semua hartanya.
Akhirnya Sang Ibu menerima kepulangan putranya dengan penuh cinta dan haru. Kebahagiaan seorang Ibu saat putranya telah kembali seperti amanah yang diberikan kepada nya.
Masya Allah! Sungguh putra dan Ibu yang beruntung karena kemuliaan akhlak dan hatinya.

Semoga kisah ini bisa menjadi teladan buat kita semua, juga para penerima beasiswa LPDP. Kembali ke Indonesia untuk memberikan kontribusinya bagi negara. Karena kontribusi LPDP diharapkan bisa membawa manfaat dan kemaslahatan bagi negara meski mungkin jauh lebih besar gaji yang diterima jika bekerja di negeri orang.
Yuk ikutan nonton kisahnya di YouTube.
Sumber: YouTube @Meja Putih
#Ramadan Bercerita 2026
#Ramadan Bercerita 2026 hari 20